oleh

Tragis Tergencet PPKM Level 4, Pedagang Sate Kambing Kibarkan Bendera Putih

Anggit bersama Ika, istrinya didepan warung sate kambing miliknya. Sepi tidak ada pembeli akibat PPKM Level 4 (foto Naura)

Metropos.id, Sukoharjo – Aksi mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah akibat tidak kuat lagi bertahan ditengah PPKM Level 4 dilakukan seorang pedagang kuliner sate kambing ‘Pak Kampek’ di Jl Jenderal Sudirman, Sukoharjo.

Disaat yang lainnya mengibarkan bendera merah putih menyambut HUT RI ke-76, Anggit Suseno (27) bapak 3 anak ini memilih memasang bendera putih dikibarkan di depan lokasi warungnya, Senin (2/8/2021).

Tak hanya mengibarkan bendera putih, Anggit bersama istrinya, Ika Puri (29), juga membuat pernyataan sikap disebuah papan tulis ditujukan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar mempedulikan nasib pedagang kecil seperti mereka.

“Pak Jokowi miris gak ya lihat warung-warung pada sepi gini? Solusi dong!” begitu bunyi ungkapan yang mereka tulis dipapan.

Lokasi warung Anggit hanya beberapa ratus meter dari Kantor Pemkab Sukoharjo, tepatnya di sebelah utara. Namun begitu, gencarnya distribusi bantuan sosial (bansos) yang digelontorkan pemerintah sejak beberapa hari terakhir, sama sekali belum pernah diterimanya.

“Sejak pemerintah memberlakukan yang namanya PSBB hingga sekarang berganti istilah PPKM Level 4, kami sama sekali belum pernah mendapatkan bantuan apapun. Sempat terpikir mau ke dinas sosial membawa KTP, tapi kami urungkan,” ungkapnya.

Ia mengaku, semula punya mobil dan 2 sepeda motor, salah satunya jenis trail terbaru. Namun seiring perjalanan waktu saat awal diterapkan PSBB, warung satenya mulai sepi. Untuk menyambung hidup dengan 3 anak, bungsu umur 4 bulan, nomor dua 1,5 tahun, dan sulung 3 tahun, mobil dan sepeda motor dijualnya.

“Sekarang yang ada tinggal satu sepeda motor butut untuk transportasi harian. Bahkan untuk modal usaha saja kami mulai gali lubang tutup lubang. Ya pinjam teman kesana-kemari. Kami tidak tahu lagi keadaan seperti ini kapan berakhirnya,” ujarnya.

Diketahui, Anggit merupakan satu -satunya pedagang yang bertahan di tempat tersebut. Rumah yang disewa untuk membuka usaha ini pada awalnya ada 5 pedagang kuliner, seperti siomay, dan makanan camilan khas anak muda. Namun sejak Corona melanda, satu persatu mereka berguguran tidak kuat bertahan. Sekarang, walaupun pemerintah sudah memberikan kelonggaran bagi pedagang, namun hal itu tidak lantas warung Anggit didatangi pembeli, kondisinya masih saja sepi. Banyaknya ruas jalan yang ditutup dengan tujuan menurunkan mobilitas warga, dituding menjadi biang sepinya warung. Apalagi kalau malam, lampu penerangan jalan raya di depan warungnya tidak menyala.

“Pembelinya ya belum ada, palingan hanya pesan antar melalui operator ojek online. Itupun kalau ada, tidak setiap hari. Kalau jalan dibuka lagi ya mungkin bisa laku lah dan mulailah banyak yang berkunjung,” sambungnya.

Ditanya lebih jauh soal berapa nominal pendapatan yang diperolehnya selama berjualan di masa PPKM Level 4 ini, Anggit enggan menjawab. Yang pasti, ia mengaku kesulitan untuk bisa menutup modal dan membeli bahan jualan unjuk keesokan harinya.

“Kami jualan sehari dan kalau hasilnya bisa untuk nutup kulakan lagi aja, sudah syukur. Apalagi kami punya 3 anaknya yang masih kecil-kecil,” pungkasnya. (Naura/Red).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed