oleh

Geger Excavator Penjebol Tembok Bekas Beteng Keraton Kartasura Raib dari TKP, FBM Pertanyakan Keberadaannya

Ketua FBM BRM Kusumo Putro menunjuk lokasi tempat excavator semula berada (Foto Nugroho)

Metropos.id, Sukoharjo – Beberapa hari menjelang Lebaran 2022 lalu, Kartasura, Sukoharjo menjadi pembicaraan luas masyarakat yang dipicu kasus penjebolan tembok bekas beteng keraton yang berada disana.

Saat ini tim Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Jawa Tengah (Jateng) dan BPCB tengah bekerja untuk menyelidiki adanya unsur tindak pidana perusakan cagar budaya didalamnya.

Bahkan tim khusus Kejaksaan Agung (Kejagung), juga turut turun tangan meninjau langsung di lokasi untuk melihat seberapa parah kerusakan tembok yang dijebol menggunakan excavator itu.

Semula lokasi tembok yang jebol dan excavator telah diberi pita kuning atau garis polisi sebagai tanda bukti, yakni barang yang dirusak, dan alat yang digunakan untuk merusak.

Namun saat ini keberadaan excavator yang digunakan sebagai alat untuk menjebol tembok itu sudah tidak ada di TKP, padahal kasusnya masih dalam penyelidikan.

Raibnya excavator alat bukti perusakan bangunan Obyek Diduga Cagar Budaya (ODCB) itu sangat disayangkan oleh Forum Budaya Mataram (FBM).

“Kami mempertanyakan, kemana barang bukti (excavator) tersebut. Karena kami melihat saat tim Kejagung meninjau lokasi beberapa hari lalu, barang itu sudah tidak ada,” kata Ketua FBM, BRM Kusumo Putro, Kamis di TKP bekas beteng Keraton Kartasura, Jum’at (20/5/2022).

Mengingat eksavator tersebut merupakan salah satu alat bukti dari pelaku, maka ia meminta kepada aparat terkait yang menangani kasus dugaan perusakan tembok bekas beteng keraton itu menjelaskan keberadaannya.

“Barang itu disimpan dimana? Apakah disimpan di Kejati Jawa Tengah (Jateng), di Polres Sukoharjo, di Polsek Kartasura, BPCB Jateng, Polda Jateng, atau dimana? Ini perlu dipertanyakan, karena menurut kami (excavator) itu adalah alat bukti pokok,” tegasnya.

Sebagai barang bukti dalam kasus yang masih dalam tahap penyelidikan, menurut Kusumo, semestinya excavator diamankan. Tidak boleh diambil tanpa prosedur yang telah diatur dalam perundang-undangan.

“Misalnya itu diambil untuk dipinjam oleh pemiliknya, itu harus melalui prosedur sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tidak bisa begitu saja diambil seenaknya. Karena ini alat bukti yang nanti akan disampaikan ke pengadilan,” ujarnya.

Kusumo menilai, dalam kasus ini mestinya PPNS) Jateng sudah bisa menetapkan para tersangka pelaku perusakan tembok bekas beteng keraton itu. Alat bukti yang dibutuhkan sudah lebih dari cukup.

“PPNS bisa menerapkan Pasal 31 Ayat 5 UU 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang berbunyi, selama proses pengkajian, benda, bangunan, atau struktur hasil temuan yang didaftarkan, dilindungi dan diperlakukan sebagai cagar budaya,” tegasnya.

Disebutkan, tembok bekas beteng keraton itu sudah didaftarkan sebagai bangunan cagar budaya. Harus dilindungi meskipun belum mendapat SK penetapan atau register.

Dengan pendaftaran yang sudah dilakukan, maka penerapan UU cagar budaya untuk melindungi dari kerusakan sudah berlaku.

“Apalagi ini dijebol menggunakan excavator. Itu sudah memenuhi unsur pidana,” ucapnya.

“Oleh karenanya, raibnya excavator dilokasi tempat kejadian perkara menjadi pertanyaan. Ada undang-undang yang mengatur tentang perlakuan barang bukti,” sambungnya.

Dicontohkan Kusumo, dengan pertimbangan subjektif penyidik, barang itu bisa saja disimpan di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara atau disingkat Rupbasan, dipinjampakaikan atau dimusnahkan.

“Dengan adanya garis polisi atau pita kuning disini, artinya tempat ini statusnya status quo, seharusnya segala apa pun yang berada disini harus diamankan,” imbuhnya.

Terpisah, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) BPCB Jateng, Harun Arrosyid, saat dikonfirmasi terkait keberadaan eskavator mengatakan, akan menjelaska seusai gelar perkara, Senin (23/5/2022) mendatang, di kantor BPCB Jateng di Prambanan, Klaten.

“Mohon maaf, besok Senin siang sekalian kami jawab habis gelar perkara nggih. Biar (lebih) lengkap,” jawabnya melalui pesan singkat WhatsApp. (Nanang/Red).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed