METROPOS.id, Boyolali – Pengembangan wisata ternak masih menghadapi kendala. Pertama adalah minimnya air, utamanya saat musim kemarau dimana peternak harus membeli air bersih dari pedagang keliling. Karena kebutuhan air bersih sangat kurang.
Potensi ternak di wilayah Kecamatan Musuk, dinilai sangat berpotensi. Bahkan, peternakan tersebut bisa dikembangkan sebagai daya tarik wisata.
Menurut Kades (Kepala Desa) Sukorejo, Erik Darmadi mengatakan kami memang menggagas adanya wisata ternak di desa kami dan desa lain. Kendal nya ada pada kebutuhan air, disaat musim kemarau panjang warga desa kami sangat kesulitan mencari air bersih. Mayoritas warga desa kami memiliki ternak sapi dan kambing, baik itu jenis sapi perah maupun sapi pedagang. Setiap hari mampu menghasilkan minimal 10 liter Susu, Hal ini di ungkapkan saat jumpai wartawan Sabtu (5/10/2019).
Lebih lanjut dikatakan, Peternakan kambing yang mengunakan sistem baterai atau kandang tunggal tersebut memiliki prospek bagus.
“Produksi susu dibeli pedagang keliling dengan harga Rp 30.000/ liter. Sedangkan indukan kambing dibeli dari Banjarnegara dengan harga Rp 3 juta/ ekor dan pejantan dewasa seharga Rp 6 juta- Rp 7 juta/ ekor,” ujarnya.
Kendala lain, belum adanya dukungan dari sektor lain. Artinya, belum ada usaha terkait sektor peternakan di kawasan sekitar Desa Sukorejo dan Kecamatan Musuk. Misalnya, usaha pengolahan daging atau abon serta usaha olahan susu.
“Karena baru fokus satu sektor yaitu, ternak saja, jadi untuk wisata belum bisa menjual,” terangnya.
Untuk itu, pihaknya akan berupaya menjalin koordinasi dengan jajaran terkait.
“Kami akan menjalin kerjasama dengan pengusaha abon di Boyolali Kota maupun kawasan wisata air Tlatar untuk membuat paket wisata terpadu,” pungkasnya. (Mul/Red).











Komentar