oleh

Ditengah Pandemi COVID -19, Empat Warga Sukoharjo Meninggal Terkena DBD 

METROPOS.ID, SUKOHARJO – Ditengah perhatian masyarakat fokus terhadap pencegahan pandemi COVID -19, penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) rupanya juga telah memakan korban.

Hingga minggu ke-24, kasus akibat gigitan nyamuk aedes aegypti ini, di Sukoharjo angkanya sudah mencapai 131 kasus tersebar di 12 kecamatan. Bahkan, 4 kasus diantaraanya menyebabkan penderitanya meninggal dunia.

“Data dari 12 Kecamatan di Sukoharjo hingga minggu ke-24, kasus DBD tertinggi ada di Sukoharjo Kota sebanyak 25 kasus, disusul Bendosari dengan 19 kasus,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten ((DKK) Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, Rabu (24/6/2020).

Menurut Yunia, peningkatan kasus DBD secara signifikan terjadi dalam 1 bulan terakhir. Untuk itu, dihimbau kepada masyarakat agar mewaspadai penyakit ini selain juga tetap waspada terhadap penularan COVID -19.

“Sebenarnya yang paling efektif mencegah wabah DBD adalah dengan pemberantasan sarang nyamuk dan jentiknya, bukan dengan fogging (pengasapan-Red),” sebut Yunia.

Hal ini ditegaskan, lantaran masyarakat selama ini terlanjur memiliki keyakinan bahwa jika ada temuan kasus DBD harus dilakukan fogging. Padahal, untuk melakukan fogging ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi terlebih dulu.

“Jadi, fogging tidak bisa dilakukan sembarangan karena obat fogging bisa menimbulkan resistensi pada nyamuk. Dan obatnya juga membahayakan bagi lingkungan. Yang terpenting masyarakat harus berperilaku hidup bersih dan sehat,” pungkasnya (Naura/Red).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed