Hendi saat hadiri perayaan tradisi sesaji Rewanda di Goa Kreo (Foto Infokom)
Perayaan ini diikuti warga sekitar yang juga turut serta meramaikan serta menjaga kelestarian budaya asli yang berasal dari Kota Semarang tersebut.
Walikota Semarang Hendrar Prihadi atau Hendi mengapresiasi warga sekitar yang turut meramaikan acara tersebut.
Hendi menyampaikan perayaan ini menjadi salah satu bentuk budaya untuk menghormati kebudayaan yang harus dilestarikan. Selain untuk menghormati dan meneruskan budaya bangsa dirinya juga mengharapkan tradisi ini bisa menjadi salah satu langkah mendorong tempat wisata di Kota Semarang untuk bisa bangkit lagi setelah pandemi 2 tahun lalu untuk membantu menumbuhkan perekonomian di Kota Semarang.
Hendi terus mendorong adanya peningkatan kunjungan wisatawan ke Kota Semarang untuk dapat menggerakkan ekonomi di wilayah yang dipimpinnya.
Untuk itu dirinya berharap bahwa wisatawan yang datang ke tempat wisata di Kota Semarang terlibat dalam aktivitas ekonomi setempat, dan bukan hanya sekedar berkunjung.
Dirinya bahkan berseloroh menginginkan lebih banyak rojali yang berkunjung ke wilayah yang dipimpinnya.
“Terima kasih kepada wisatawan yang datang ke Kota Semarang. Tapi ya jangan jadi Rohali, atau rombongan hanya lihat – lihat saja. Mari jadi Rojali, rombongan jajan dan beli, supaya ekonomi kita tumbuh,” tekan Hendi.
“Maka Alhamdulillah hari ini bertepatan dengan kegiatan Jambore Nasional KOMPAKSI API di Kota Semarang, sehingga para peserta juga bisa terlibat dalam agenda wisata yang kita selenggarakan,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Hendi juga menceritakan mengenai sejarah terbentuknya tradisi sesaji Rewanda. Ia menyampaikan bahwa tradisi tersebut dimulai dari Sunan Kalijaga saat mendirikan Masjid Demak dan dibantu kera-kera di Goa Kreo.
“Karena pada saat beliau ingin mendirikan masjid Demak itu Soko Gurunya atau Kayu Jatinya itu diambil dari sekitar gunung pati di Kreo itu yang kemudian dibantu oleh kera-kera sampai Beliau bisa membangun Masjid Demak. Sehingga menurut sejarah beliau kemudian selalu memberikan upeti atau sesaji kepada para kera kemudian diteruskan hingga sekarang,” tutupnya. (@wg/Qil/Red).








Komentar