Deklarasi ‘NKRI Harga Mati’ disela dialog kebangsaan ormas keagamaan di Jateng. (Foto Heru)
Peran aktif ormas keagamaan di masyarakat itu sangat diperlukan, pasalnya perbedaan apapun harus dapat diterima oleh siapapun. Telah banyak fakta yang terjadi di masyarakat, dengan adanya jalinan silaturahmi maka akan dengan mudah menjaga kondusifitas keadaan dan menyatukan perbedaan tersebut.
Munculnya paham ‘khilafatul muslimin’, boleh dikatakan mereka itu merupakan orang-orang atau saudara kita yang perlu didekati. Disitu ada pemahaman yang salah, serta ada aktor yang sengaja menghembuskannya. Sehingga, ke depan faham tersebut dapat merusak Pancasila maupun UUD 1945.
M Sofyan Sauri, mantan Napiter dari Jakarta menyatakan, diakui atau tidak bahwa sekarang ini ada gerakan masyarakat yang mulai mengganggu ketenangan bangsa dan negara. Adanya jalinan silaturahmi di tengah masyarakat maka akan membawa visi yang sama yaitu ‘NKRI Harga Mati’. Bahkan, Pancasila dan UUD 1945 itu harus dapat menjadi standar bagi siapapun.
“Kehidupan bangsa dan negara itu harus berjalan seirama dan jangan sampai jalan sendiri-sendiri. Dengan berjalan sendiri-sendiri ini, maka akan dengan mudahnya membuat orang itu menjadi radikal. Terkait dengan Khilafatul Muslimin itu, itu sebagai bagian dari mensinkronisasikan kaum muslimin dan sekarang ini akan mulai menyatu. Boleh saya katakan, bahwa mereka itu kurang bergaul maupun era sekarang ‘kurang update’. Sehingga, paham mereka itu sempit. Sekarang inilah, saatnya bersama dan bersatu dengan membawa visi besar NKRI,” kata M Sofyan Sauri.
Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah Haerudin menyatakan, pihaknya apresiasi dengan kegiatan yang prakarsai Ditintelkam Polda Jateng ini. Dialog kebangsaan ini sengaja menghadirkan ormas keagamaan di Jateng dan respon ormas sangat bagus. Ini menunjukkan jika di Jawa Tengah itu sangat rukun meski ada yang berbeda. Meski masing-masing ormas itu tentunya berbeda namun harus dan harus NKRI Harga Mati.
“Sampai sekarang ini, ada PR besar yang harus dikerjakan Badan Kesbangpol Jateng yaitu menghadirkan pimpinan ormas keagamaan se Jawa Tengah untuk melaksanakan komitmen kebangsaan secara bersama. Intinya, Badan Kesbangpol siap merangkul seluruh ormas yang ada yang sekarang ini di Jateng ada sekitar 1.000 Ormas. Ini bukan hal yang mudah untuk menyatukan. Untuk itu, kita akan gelar kegiatan sifatnya silaturahmi untuk merangkul semua ormas,” terangnya.
Khususnya anggota Khilafatul Muslimin di Jawa Tengah, ada sekitar 360 orang. Mereka itu ada di wilayah Solo Raya, Brebes, Kota Tegal, Kab Tegal, Banyumas dan untuk induknya ada di Cirebon. Dari sini, menyatukan perbedaan itu sangat penting dan perlu. Dan ini menjadi PR Badan kesbangpol Jateng untuk dapat merangkul semuanya,” jelas Haerudin, lebih lanjut.
Sementara itu, Kasubdit 4 Ditintelkam Polda Jateng AKBP Kelik menyatakan, meskipun banyak ormas khususnya Ormas Keagamaan di Jawa Tengah ini, harus dapat membawa visi misi yang sama yaitu perdaimaian serta menjadi satu NKRI. Pancasila dan UUD 1945 itu adalah harga mati dan harus menjadi standar bagi siapapun warga negara Indonesia.
Acara “Dialog Kebangsaan – Tentang Upaya Pencegahan Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme Melalui Peran Ormas Keagamaan se Jateng” ini diikuti ratusan peserta utusan dari masing-masing ormas keagamaan. Acara ini hasil kerjasama Ditintelkam Polda Jateng dengan Badan Kesbangpol Jawa Tengah. Disela acara, dilakukan Deklarasi Kebangsaan oleh semua Ormas Keagamaan di Jawa Tengah. (Heru/Red).











Komentar