oleh

Suronan, Permadani Laras Mijen Gelar Wayang Kulit Lakon Dewa Ruci

Suronan wayangan Permadani Laras Mijen (Foto wb)

Metropos.id, Semarang – Malam 1 Suro adalah merupakan adat budaya Jawa yang sudah mengakar dan melekat di masyarakat Jawa. Malam 1 Suro merupakan awal penanggalan Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam penanggalan Hijriyah.

Malam 1 Suro sendiri dalam adat Jawa diperingati pada malam hari setelah Maghrib sebelum 1 Suro. Hal ini berbeda dengan penanggalan Masehi dimana pergantian hari dimulai dari tengah malam. Namun dalam kalender Jawa pergantian hari dimulai pada saat matahari terbenam dari hari sebelumnya. Bagi masyarakat Jawa perayaan malam 1 Suro merupakan malam sakral dan mempunyai makna tersendiri.

Satu Suro sendiri selalu bertepatan dengan 1 Muharram. Hal ini tentu saja bukan tanpa sebab.

Menurut Ki Bambang Supriyono yang juga penasehat Permadani Cabang Mijen, hal tersebut merupakan kepintaran para raja di tanah Jawa jaman dahulu yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo yang membuat kalender Jawa lebih tua dari kalender Hijriyah.

“Kalender Jawa itu ternyata lebih tua dari kalender Hijriyah, walaupun tanggalnya sama. Contoh, 1 Muharram saat ini adalah 1 Muharram 1445 Hijriyah. Namun dalam penanggalan Jawa adalah 1957. Itu menandakan Jawa mempunyai kalender lebih tua dari kalender Islam,” ujarnya.

Adapun mengapa penanggalan Jawa hampir identik dengan Islam?, Dikarenakan keraton Mataram Islam dimulai dari wilayah Demak Bintoro yang merupakan kesultanan pertama yang ada di Jawa.

Bulan Suro dianggap oleh sebagian orang Jawa merupakan bulan yang keramat dan sakral dimana di bulan Suro ini saatnya melakukan olah laku (perjalanan mistis).

Perayaan malam 1 Suro diperingati beberapa orang Jawa Islam dalam rangka untuk membersihkan diri dan melawan hawa nafsu duniawi dan mendekatkan diri dengan Tuhannya.

Oleh sebab itulah beragam upacara dilakukan masyarakat Jawa baik secara individu dengan melakukan laku tirakat, perenungan diri dan lelaku lainnya atau dilakukan dalam kelompok tertentu.

Seperti halnya Permadani Laras Mijen yang juga keluarga besar Permadani Kota Semarang, memeringati malam 1 Suro dengan menggelar Ringgitan atau Wayang Kulit dengan dalang Ki Agus Waryanto dan Ki Bambang Supriyono mengambil lakon Dewa Ruci.

“Cerita Dewa Ruci itu muncul ketika Islam masuk di tanah Jawa. Sebelum Islam masuk tanah Jawa ya ndak ada lakon Dewa Ruci itu. Dewa Ruci ini bikinan para wali atau sunan. Dan didalam cerita Dewa Ruci ini ada sebuah adegan yang menggambarkan bahwa seseorang yang hanya nengenke kadonyan (mengutamakan kepentingan dunia) namun setelah diberitahu kehidupan alam ghaib (alam kasuksman/alam kelanggengan) mereka kesengsem (terpikat) dan tidak mau pulang, saking kesengsemnya dengan makna kehidupan melalui kisah pewayangan Dewa Ruci ini,” ungkap Ki Bambang Supriyono kepada Metropos.id mengupas lakon wayang Dewa Ruci yang digelar di Sanggar Karawitan Jl. Perkutut Raya, Jatisari, Mijen, Semarang, Selasa (18/7/2023) malam.

Dikatakan Ki Bambang, makna yang terkandung dalam kisah pewayangan Dewa Ruci ini adalah sebagai syiar Islam bahwa Tuhan itu Maha Kuasa dan menguasai dunia dan alam kelanggengan.

“Alam kelanggengan ini sebenarnya adalah alam kematian,” tuturnya.

Diungkapkan Ki Bambang, dalam mencari alam kelanggengan ini dibutuhkanlah sebuah sarana yaitu mencari Tirta Amarta.

“Tirta Amarta itu Tirta Pawitra Mahening Suci. Tirta (banyu/air), Pawitra (bening), Mahening (maha suci), Suci (tidak terkena kotoran apapun). Intinya orang hidup kan begitu. Nah disitulah dia akan tau sangkan paraning dumadhi, Innalillahi wa innailaihi rojiun (sesungguhnya semua adalah milik Allah, dan hanya kepada Allah semua akan kembali),” terang Ki Bambang.

Namun pada saat itu tidak mungkin wali dalam dakwahnya menggunakan bahasa Arab, karena pada saat itu masyarakat Jawa masih banyak yang belum mengenal Islam.

“Kan nggak mungkin kalau itu dibahasakan pakai bahasa Arab, malah do adoh, wong Jowo kan do wegah, lho jebule wayang ki Arab to (malah menjauh, orang Jawa malah tidak mau, berarti wayang itu Arab). Untuk itulah wayang diambil dari cerita-cerita pada jamannya yaitu Hindu. Oh itu jeh boloku (oh itu masih saudaraku),” beber Ki Bambang.

Mengambil kisah Dewa Ruci dalam gelaran wayang kulit di malam 1 Suro ini Ki Bambang Supriyono hanya berupaya memberikan pelajaran Sinandhi (simbolis) kepada seluruh keluarga besar Permadani agar tetap mempunyai semangat dalam menjaga dan melestarikan budaya Jawa.

Dirinya menyampaikan pesan kepada keluarga Permadani Mijen hingga Pusat yang selama ini tidak mempunyai agenda khusus dalam memeringati 1 Suro. Sehingga hal ini dapat dijadikan pelajaran, mengingat bulan Suro adalah bulan Jawa, maka yang harus melestarikan orang Jawa itu sendiri.

“Kita ini orang Jawa kok malah nggak pernah merasa berulang tahun di tahun Jawa itu gimana? Gitu lho. Maka tahun barunya orang Jawa ya ini,” beber Ki Bambang.

Untuk itulah pada kesempatan ulang tahun di bulan Jawa ini, dirinya mengajak warga Permadani untuk Muhasabah. Yang baik dilestarikan dan ditingkatkan, yang tidak baik ditinggalkan.

“Satu Suro itu harus kita adakan suatu pertemuan, minimal doa bersama,” pesan Ki Bambang.

“Untuk keluarga besar Permadani, tetaplah bersemangat uri-uri kabudayan Jawa, termasuk salah satunya adalah mengeti (memeringati) tahun baru Jawa 1 Sura ini. Cinta budaya itu luas, ya cinta keseniannya, cinta kesasteraannya, cinta akan cerita-ceritanya, cinta perilakunya dan cinta dengan nilai-nilai luhurnya,” pungkas Ki Bambang Supriyono. (wib/red).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed