Upacara adat Tedak Siten (Foto wb)
Metropos.id, Semarang – HARPI (Himpunan Ahli Rias Penganten Indonesia) Melati DPD Kota Semarang gelar seminar Tata Upacara Adat Tingkeban dan Tedak Siten di Rumah Dinas Wali Kota Semarang Jl. Abdul Rahman Saleh, Kalipancur, Ngaliyan, Semarang, Selasa (8/8/2023).
Tingkeban adalah salah satu tradisi selamatan yang dilaksanakan pada usia kehamilan 7 bulan dan hanya dilakukan bila anak yang dikandung merupakan anak pertama bagi si ibu.
Adapun Tedak Siten adalah upacara adat bagi anak yang baru mulai turun tanah untuk yang pertama kalinya. Dan biasanya anak mulai belajar berjalan menapak ke tanah di usia 7 lapan menurut kalender Jawa atau 8 bulan menurut kalender Masehi.

Upacara adat Tingkeban (Foto wb)
Seminar dibuka Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, Dr Endang Sarminingsih, S, SE MM mewakili Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu.
Gelaran seminar budaya dalam rangka memeringati HUT RI ke-78 ini menghadirkan narasumber Ketua DPW Permadani (Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia) Jawa Tengah Drs. YA Pedi Hendriyadi dan Y. Eko Priyono, S.Pd MM.
Yossie Rachman, Wakil Ketua DPC Harpi Melati Kota Semarang menjelaskan, kegiatan seminar dengan tema Duwe Putu (punya cucu) diikuti 275 peserta diantaranya 16 ranting Harpi kecamatan se-Kota Semarang dan beberapa kabupaten atara lain, Kudus, Pati, Salatiga, Boyolali, Kendal, Grobogan serta pemerhati budaya ini diharapkan dapat menambah wawasan dan khasanah bagi para pelaku rias penganten yang tergabung dalam wadah HARPI.
“Saya mengajak para perias-perias muda, khususnya yang tergabung Harpi agar bisa lebih memahami tata rias penganten maupun tatacara adat secara tradisional agar tidak punah,” ungkap Yossie kepada Metropos.id usai seminar.
Selain itu yang tak kalah penting dikatakan Yossie yang juga Sekretaris Umum DPD HARPI Jawa Tengah ini, pelaku tata rias penganten juga mempunyai peran strategis dalam melestarikan budaya nasional bangsa dengan nguri-uri budaya Jawa khususnya dalam tata cara adat.
Yossie mengajak para perias-perias muda untuk mulai mencintai tata cara upacara adat maupun tata rias penganten tradisional agar tidak punah dan tidak termodifikasi dengan sembarangan.
“Termodifikasi tetapi terarah,” tegasnya.
Ditempat sama, Ketua DPW Permadani Jawa Tengah, Pedi Hendriyadi mengatakan, keberadaan HARPI dan Permadani mempunyai tujuan yang sama dan bergerak bersama dalam melestarikan budaya nasional Indonesia.
“Dengan membedah upacara adat Jawa Tingkeban dan Tedak Siten ini, kita berupaya menyamakan persepsi terkait upacara-upacara adat khususnya adat Jawa. Bagi mereka (perias) yang belum pernah menerima pengetahuan tentang hal ini, barangkali dapat membawa manfaat bagi para perias-perias penganten di Jawa Tengah,” ungkap Pedi.
Jika dalam pelaksanaan upacara adat terdapat perbedaan, menurut Pedi hal tersebut menjadi lumrah dan biasa. Namun tidak ada perbedaan yang prinsip sehingga dapat menjadi pegangan para perias penganten dalam menjalankan profesinya.
“Budaya kan memang begitu,” ucapnya.
Saat ditanya perbedaan antara HARPI dan Permadani dalam pelaksanaan tata cara upacara adat, Pedi menjelaskan tidak jauh berbeda, karena dimungkinkan antara Harpi dan Permadani sama-sama menganut adat Keraton Surakarta.
“Ya dapat dikatakan Harpi dan Permadani mempunyai tujuan yang sama, yaitu nguri-uri budaya dan melestarikan adat budaya,” pungkas Pedi. (wib/red).











Komentar