METROPOS.ID II Semarang – Menapak 2 tahun usia Grup Karawitan Permadani Laras Mijen, Kota Semarang semakin menunjukkan eksistensinya dalam melestarikan budaya nasional Indonesia khususnya budaya Jawa.
Permadani (Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia) yang pada awal berdiri 4 Juli 1984 adalah merupakan organisasi sosial kemasyarakatan yang terbuka, umum dan tidak terafiliasi dengan partai politik manapun.
Permadani awal berdiri berupaya mulai menjaga dan menggali, mengangkat serta mengembangkan kebudayaan daerah sebagai usaha memperkuat jatidiri kebudayaan nasional Indonesia.
Dan Permadani yang telah berdiri di beberapa Kab/Kota di Jateng bahkan di luar Jawa dalam membuka pelatihan (Pawiyatan) bukan hanya ingin mencetak seorang menjadi pembawa acara yang pandai membawakan acara ataupun pandai dalam berbicara serta olah vokal dengan menggunakan bahasa Jawa, namun lebih dari itu, Permadani mempunyai cita-cita yang mulia yaitu mencetak manusia yang mempunyai budi pekerti luhur dan kepribadian yang sesuai dengan jati diri bangsa.
Penasehat Permadani Cabang Kec. Mijen, Kota Semarang Drs. Bambang Supriyono, M.Pd dalam kesempatan latihan karawitan di sanggarnya mengatakan, Karawitan Permadani Laras Mijen awal mulai sekira 2 tahun yang lalu, dimana saat itu ditangani pelatih karawitan yang juga dalang dari Boyolali, Ki Ribut.
Berjalan setahun sempat vakum, dan dilanjutkan oleh pelatih gamelan yang juga dalang dari Kota Semarang, Ki Slamet.
Kesenian karawitan sendiri dalam kurikulum pembelajaran atau pelatihan di pawiyatan Permadani diajarkan dalam materi Tembang dan Gending. Selain itu pelajaran terkait sastra Jawa, bahasa Jawa, busana dan adat.
“Nah karena disitu ada pelajaran tentang gending dan tembang maka kita harus tahu ciri dari gending itu sendiri, apakah itu gending ladrang, lancaran atau ketawang, itu ada ciri-ciri yang bisa dipelajari,” kata Njeng Bambang penggilan gelar orang yang dituakan di Permadani, Selasa malam (26/9/2023).
Adapun awal berdirinya karawitan Permadani Laras disebut Njeng Bambang secara kebetulan mempunyai seperangkat alat gamelan lengkap yang dapat digunakan untuk berlatih karawitan.
“Awalnya dipraktekkan, lama-lama koq asik dan menyenangkan. Bahkan memberikan rasa keasikan tersendiri untuk meningkatkan bidang seni karawitan ini. Untuk itulah kita mulai intens berlatih karawitan selain bisa panatacara, busana dan adat,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, Permadani Laras berupaya meningkatkan kemampuan tidak hanya mengiringi gending-gending saja, namun merambah mengiringi pentas wayang kulit.
Yang sebelumnya, Permadani Laras Mijen beberapa bulan lalu tampil mengiringi acara Kirab Budaya Mijen, wisuda Permadani Cabang Mijen, pentas wayang kulit memeringati HUT RI ke-78 di Kec. Mijen. Dan pada Rabu malam 27 September 2023 Permadani Laras Mijen akan menggelar pentas wayang kulit dalam rangka Merti Dusun Bungas, Desa Kadirejo, Kec. Pabelan, Kab. Semarang.
Pentas wayang kulit Merti Dusun Bungas lakon Petruk Nagih Janji dengan dalang Ki Ir. Agus Waryanto, SIP MM dan Ki Drs. Bambang Supriyono, M.Pd.
Dalam beberapa kesempatan pentas mengiringi berbagai acara, Bambang Supriyono merasa bangga dengan Karawitan Permadani Mijen yang telah berani tampil mengiringi pentas pertunjukkan wayang kulit.
“Maaf ya, saya berani sombong, Permadani mana yang bisa mengiringi wayang kulit, kalo tidak Permadani Mijen,” ungkap njeng Bambang dengan mimik menggemaskan dan tawa renyahnya.
Dalam pesannya, Bambang Supriyono meminta untuk warga Permadani selalu berusaha mengembangkan diri tidak hanya terfokus hanya pada materi kursus saja, namun dalam bidang lainnya hendaknya dapat ditingkatkan termasuk bidang seni karawitan, gending dan pedalangan.
“Bertahap, kedepan Permadani Mijen juga akan berlatih ketoprak dan juga wayang orang,” pesannya.
Saat ini Permadani Laras Mijen tengah bersiap diri pentas wayang kulit di Kab. Semarang, Ia berharap hal ini sebagai media peningkatan masa tayang dan jam terbang dalam rangka meningkatkan mutu dan pengetahuan serta ketrampilan seni wayang kulit menuju profesionalitas berkesenian. (wib/red).







Komentar