oleh

Permadani Cabang Sembah Sakalbu Bregada 1 Menggelar Pendadaran Pangrumpaka

Foto : Peserta Pendadaran Pangrumpaka Bregada 1 Permadani Cab. Sembah Sakalbu berfoto bersama para dwija (tim penguji).(ft.hadiw).

METROPOS.ID || SEMARANG – Sebanyak 42 siswa Pawiyatan Panatacara tuwin Pamedhar Sabda bregada 1 Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani) Cab. Sembah Sakalbu (Semarang bawah setunggal kalbu/sehati) atau bregada 112 Kota Semarang menggelar Pendadaran Pangrumpaka atau Panyandra, bertempat di Omah Srawung, Papandayan, Kota Semarang, Senin (7/10/2024) malam.

Permadani dalam kiprahnya menjaga dan memelihara budaya bangsa tak henti mencetak generasi pelestari budaya yang kelak akan menjaga, melestarikan dan mengembangkan budaya adiluhung bangsa sehingga tak hilang ditelan jaman. Dengan semangat nguri-uri budaya leluhur bangsa, Permadani konsisten menyelenggarakan acara-acara budaya, khususnya budaya Jawa.

Salah satu upaya memelihara kebudayaan adiluhung bangsa, Permadani mempunyai kegiatan andalan dalam belajar memahami apa itu budaya Jawa, yaitu dengan membuka Pawiyatan (kursus) Panatacara Tuwin Pamedhar Sabda yang telah sekian lama menjadi kurikulum tetap Permadani.

Salah satu Cab. Permadani yang ada di Kota Semarang ini misalnya, Permadani Cab. Sembah Sakalbu. Diperiode pertamanya, Permadani Cab. Sembah Sakalbu melaksanakan Pendadaran bagi siswa-siswanya yang telah 6 (bulan) menyelesaikan pawiyatan (kursus). Dan hanya tinggal mengikuti prosesi wisuda yang akan dilaksanakan pada tanggal 23 Oktober 2024 di Museum Ronggowarsito, Semarang.

“Pawiyatan malam hari ini, melaksanakan Pendadaran wajib, nyandra. Yang sebelumnya telah dilaksanakan pendadaran tertulis, pilihan, medhar sabda (pidato bahasa Jawa) dan malam ini adalah pendadaran wajib Pangrumpaka atau Panyandra,” tutur Edi Suprapto, SH Ketua Permadani Cab. Sembah Sakalbu kepada metropos.id di sela acara.

Sebelumnya, dituturkan Edi, pendadaran (ujian) dilaksanakan dalam 3 tahap, diawali dengan ujian tertulis yang telah dilaksanakan pada 20 September 2024 lalu. Selanjutnya pendadaran pilihan (medhar sabda) pada 21 September 2024 dan pendadaran wajib (pangrumpaka/nyandra) 7 Oktober 2024.

Sebanyak 42 siswa mengikuti Pendadaran Pangrumpaka yang dilaksanakan oleh Permadani Cab. Sembah Sakalbu Bregada 1 terdiri dari 8 wanita serta 34 pria.

Adapun tim penguji pada pendadaran kali ini kesemuanya dari DPP Permadani, antara lain, Antonius Suparlan, Basuki Gunarto, Bambang Sulanjari dan Suko Prayitno. Hadir pula Ketua DPP Permadani Drs. Suyitno Yoga Pamungkas, M.Pd, dan Ketua DPD Permadani Kota Semarang, Subardo, SH.

Dikatakan Edi, sebelumnya, Permadani Cab. Sembah Sakalbu Bregada 1 berjumlah 60 siswa. Seiring berjalannya waktu banyak yang tak dapat melanjutkan pawiyatan dengan berbagai alasan, antara lain, kesibukan pekerjaan yang bersamaan dengan jadwal pawiyatan.

“Ya seleksi alam ya. Karena pekerjaan yang tak dapat ditinggalkan sehingga dari 60 siswa tinggal 42 siswa. Namun yang 42 siswa ini, kami sangat bangga sekali, mereka semangat semua, hingga akhir pawiyatan pendadaran malam ini,” ucap Edi yang juga anggota Polairud Polda Jateng ini.

Melanjutkan program pawiyatan, saat ini Permadani Cab. Sembah Sakalbu telah menerima 47 orang siswa yang bersiap untuk mengikuti pawiyatan bregada 2. Dan sebelumnya akan dilaporkan terlebih dahulu ke DPD Permadani Kota Semarang untuk mendapatkan ijin pelaksanaan pawiyatan bregada 2 yang rencananya dilaksanakan pada bulan Desember 2024 mendatang.

Mendapat amanah sebagai Ketua Permadani Cab. Sembah Sakalbu, Edi hanya mempunyai satu niat, yaitu nguri uri budaya adiluhung tetilaran para sesepuh Jawa agar tidak hilang ditengah perkembangan budaya modern yang semakin menjauhkan dari budaya luhur bangsa.

Sementara itu ditempat yang sama, Ketua DPD Permadani Kota Semarang, Subardo, SH kepada metropos.id mengapresiasi pelaksanaan Pendadaran Pangrumpaka yang dilaksanakan oleh Permadani Cab. Sembah Sakalbu.

Meski usianya belum genap setahun berdiri, Sembah Sakalbu telah menunjukkan eksistensinya dalam mengemban amanah melestarikan budaya Jawa dengan mencetak calon-calon pembawa acara (MC) yang dikenal dengan Pranatacara atau Panatacara.

“Saya sangat bangga, Pendadaran wajib malam hari ini, suasananya dibuat indah, Dwija (guru/tim penilai) yang hadir juga kebetulan beliau semua para pengajar senior yang potensi dibidangnya, dan para siswa juga sangat antusias, sangat bersemangat”.

“Sembah Sakalbu ini bregada pertama atau angkatan pertama tapi sangat antusias sekali para siswanya. Karena didukung oleh para Pamong Cab. Sembah Sakalbu yang juga mempunyai semangat. Pamongnya masih muda-muda semua, masih segar. Jadi sinergi antara para pamong dengan siswanya terjalin dengan baik,” ucap Subardo.

Kedepan, Ia berharap pawiyatan tetap diadakan oleh semua cabang yang ada di Kota Semarang dan dapat diikuti oleh para muda tidak hanya yang telah lanjut usia atau sepuh.

Menurutnya, saat ini kebanyakan masih banyak diikuti oleh kalangan usia sepuh, bahkan diatas usia 50 tahun. Untuk itu kedepan Ia berharap pawiyatan bisa diikuti oleh para remaja.

Menyikapi hal tersebut, Ia sudah berencana untuk menghubungi lembaga pendidikan atau sekolah untuk bisa mengikutkan setidak-tidaknya guru bahasa Jawa dan juga siswanya untuk ikut pawiyatan. (had/red).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed