Mahasiswa mendatangi kediaman Ahli Kosmologi Jawa Nangsir Soenanto. Dok Istimewa.
METROPOS ID || YOGYAKARTA – Perubahan iklim global telah membawa dampak signifikan terhadap pola cuaca,
menjadikannya semakin sulit diprediksi. Bagi petani, ketidakpastian ini menjadi tantangan besar dalam menentukan waktu tanam dan panen yang tepat.
Di tengah kondisi ini, Pranata Mangsa muncul sebagai sistem pengetahuan lokal masyarakat agraris Jawa yang telah diwariskan secara turun-temurun. Lebih dari sekadar kalender musim, Pranata Mangsa mencerminkan komunikasi spiritual antara manusia dan alam.
Sebagaimana dijelaskan Nangsir Soenanto dalam wawancara mahasiswa UIN Yakyakarta pada 15 Mei 2025 di Kulon Progo, Pranata Mangsa didasarkan pada ilmu titen atau observasi alam.
Salah satu mahasiswa UIN Yokyakarta yang ikut dalam sesi tersebut, Ahmad Iqtada Binnabie mengatakan teori Pranata Mangsa adalah menggabungkan pengamatan terhadap pergerakan matahari, perilaku flora dan fauna, hingga unsur-unsur kosmik seperti bintang dan bulan.
Waktu dipahami secara siklikal dan terhubung erat dengan siklus kehidupan, sebagaimana tercermin dalam tradisi mocopat yang menggambarkan fase kehidupan manusia dari lahir hingga kembali ke alam.
Dalam pandangan kosmologi Jawa, Pranata Mangsa merupakan perwujudan dari falsafah “Sedulur Papat Limo Pancer”, pandangan yang menjelaskan keberadaan
manusia sebagai kesatuan dengan unsur-unsur alam: api, air, tanah, udara, serta roh (pancer).
Setiap unsur memiliki relasi dengan nafsu dalam diri manusia. Harmoni antar unsur tersebut menciptakan keseimbangan hidup. Unsur-unsur itu pula yang tercermin dalam tujuh unsur kehidupan.
Menurut salah satu Ahli kosmologi Jawa, Nangsir Soenanto, dari tujuh unsur terbagi menjadi tiga klasifikasi, yakni tiga unsur langit (matahari, bulan, bintang), tiga unsur bumi (air, tanah, api), serta satu unsur lainnya ada di mana-mana, yaitu udara.
“Pranata Mangsa terdiri dari 12 mangsa yang dimulai setiap 22 Juni, dengan durasi bervariasi antara 23 hingga 43 hari. Pengetahuan tentang kapan mangsa tertentu datang sangat penting untuk menentukan waktu tanam, pemupukan, hingga panen,” ungkapnya, Senin (26/5).
Dalam praktiknya, petani tradisional juga mengamati tetenger atau tanda-tanda alam, seperti pohon randu yang berbunga sebagai pertanda akan datangnya hujan.
Namun, di era modern ini, Pranata Mangsa mulai ditinggalkan oleh generasi muda karena kurangnya perhatian dalam kurikulum pendidikan terhadap pengetahuan lokal.
Generasi sekarang lebih mengenal teknologi daripada tradisi agraris, sehingga transfer pengetahuan antar generasi terputus.
“Jika tidak ada upaya pelestarian melalui pendidikan, dokumentasi, maupun revitalisasi, pengetahuan ini terancam punah, padahal di dalamnya tersimpan nilai-nilai ekologis, sosial, dan spiritual yang sangat penting,” paparnya.
Menurutnya, Pranata Mangsa bukan hanya alat hitung waktu, tetapi warisan budaya yang menawarkan jalan hidup selaras dengan alam. Menghidupkan kembali baginya merupakan usaha untuk merawat bumi, menjaga keseimbangan, dan menghargai kebijaksanaan leluhur dalam menghadapi tantangan zaman. (iqt/@wg)











Komentar