oleh

Tiga Kasus Bunuh Diri di DIY, Psikiater: Mereka Butuh Pertolongan, Bukan Penghakiman

Korban bunuh diri.(ft kmit).

METROPOS.ID || YOGYAKARTA – Tiga peristiwa bunuh diri yang terjadi secara beruntun dalam kurun waktu 2 hari di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan jiwa semakin nyata di tengah masyarakat. Lebih memprihatinkan lagi, seluruh korban merupakan warga usia produktif yang seharusnya masih berada pada fase aktif berkarya dan membangun masa depan.

Kasus pertama menimpa seorang perempuan berusia 24 tahun asal Ponjong, Kab. Gunungkidul. Peristiwa berikutnya terjadi pada Minggu malam, ketika seorang perempuan berusia 30 tahun asal Kalasan, Kab. Sleman, ditemukan meninggal dunia. Selang sehari, Senin siang, seorang laki-laki berusia 44 tahun asal Kota Yogyakarta juga mengakhiri hidupnya.

Rangkaian peristiwa tersebut menyisakan duka sekaligus memunculkan pertanyaan besar. Di tengah budaya gotong royong yang menjadi identitas bangsa Indonesia, masih ada peristiwa yang memilukan ini.

Psikiater PKU Muhammadiyah Gamping, Dr. Warih Andan Puspitorini, SpKJ, mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa bunuh diri umumnya tidak dipicu oleh satu persoalan saja.

Menurutnya, tindakan tersebut merupakan hasil akumulasi berbagai faktor yang saling berkaitan.

“Perlu dipahami bahwa bunuh diri hampir tidak pernah disebabkan oleh satu faktor tunggal, tetapi merupakan interaksi berbagai faktor biologis, psikologis, sosial, dan ekonomi yang terakumulasi dalam waktu tertentu,” kata Warih.

Ia menjelaskan, kelompok usia produktif saat ini menghadapi tantangan kehidupan yang jauh lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Tekanan ekonomi, ketidakpastian pekerjaan, konflik keluarga, persoalan hubungan, tuntutan akademik maupun pekerjaan, hingga paparan media sosial dapat menjadi pemicu munculnya gangguan kesehatan jiwa.

“Kelompok usia produktif menghadapi tekanan yang cukup kompleks, seperti tuntutan ekonomi, ketidakpastian pekerjaan, konflik keluarga, masalah relasi, tekanan akademik maupun pekerjaan, serta paparan media sosial yang dapat menjadi faktor pencetus munculnya masalah kesehatan jiwa, yang salah satunya berisiko menyebabkan bunuh diri,” jelasnya.

Menurut Warih, masyarakat juga perlu mengubah cara pandang terhadap bunuh diri. Mereka yang mengalami krisis psikologis membutuhkan pertolongan, bukan stigma maupun penghakiman.

“Masyarakat perlu memahami bahwa bunuh diri sebagian besar terjadi pada seseorang yang mengalami masalah kesehatan jiwa atau krisis psikologis yang berat. Karena itu mereka membutuhkan pertolongan, bukan penghakiman. Deteksi dini, dukungan keluarga, dan akses terhadap layanan kesehatan jiwa merupakan kunci penting dalam pencegahan bunuh diri,” katanya.

Ia menambahkan, sebagian besar kasus bunuh diri sebenarnya tidak terjadi secara tiba-tiba. Biasanya terdapat perubahan perilaku yang muncul terlebih dahulu, namun sering luput dari perhatian orang-orang terdekat.

Tanda-tanda tersebut di antaranya menarik diri dari pergaulan, menjadi lebih pendiam, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, mengalami gangguan tidur, mudah marah, merasa hidup tidak berarti, merasa menjadi beban bagi orang lain, hingga mulai membereskan urusan pribadi atau mengucapkan kalimat yang menunjukkan hilangnya harapan.

“Kadang tidak mudah mengenalinya. Karena itu yang penting adalah membangun budaya peduli, berani bertanya, dan menyediakan waktu untuk mendengarkan tanpa menghakimi,” ungkapnya.

Warih menekankan bahwa kesehatan jiwa harus dirawat sebagaimana kesehatan fisik. Menjaga hubungan sosial, menerapkan pola hidup sehat, mengelola stres melalui aktivitas positif, serta tidak memendam masalah seorang diri merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan mental.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak ragu mencari bantuan profesional apabila mengalami kesedihan berkepanjangan, kehilangan harapan, atau mulai muncul keinginan menyakiti diri sendiri.

“Mencari bantuan bukan tanda kelemahan. Justru itu adalah bentuk keberanian dan upaya menjaga diri,” pungkasnya.

Peristiwa yang terjadi di DIY dalam 2 hari terakhir menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap sesama tidak cukup hanya diwujudkan dalam budaya gotong royong secara fisik, tetapi juga dengan hadir untuk mendengarkan, memahami, dan membantu mereka yang sedang berjuang menghadapi tekanan hidup.(kmit/red).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed