Saat gotong royong.(ft kmit).
METROPOS.ID || KAJEN – Di tengah semakin pudarnya budaya gotong royong, warga Desa Tengengwetan, Kec. Siwalan, Kab. Pekalongan, Jawa Tengah justru menunjukkan semangat kebersamaan yang menginspirasi. Mereka bergotong royong membangun sebuah rumah bagi warga yang tidak memiliki tempat tinggal. Kini, progres pembangunan telah mencapai sekitar 80 persen.
Sebagai bentuk rasa syukur atas kelancaran pembangunan tersebut, warga menggelar tradisi Munggah Molo, sebuah prosesi adat Jawa yang dilakukan saat pemasangan bagian atas atau penutup rumah. Tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi doa bersama agar pembangunan dapat diselesaikan dengan lancar dan rumah yang dibangun membawa keberkahan bagi penghuninya.
Kades (Kepala Desa) Tengengwetan, Rohmat, mengatakan bahwa pembangunan rumah dilakukan secara swadaya oleh masyarakat.
“Alhamdulillah, rumah yang dibangun secara gotong royong oleh warga sudah mencapai sekitar 80 persen. Hari ini kami mengadakan syukuran atau Munggah Molo sebagai bentuk rasa syukur sekaligus doa bersama agar proses pembangunan selesai dengan lancar dan semua yang terlibat diberikan keselamatan, kesehatan, serta rezeki yang melimpah,” ujar Rohmat.
Dia juga mengapresiasi seluruh warga yang telah menyumbangkan tenaga, waktu, maupun bantuan lainnya selama proses pembangunan berlangsung.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah membantu. Semoga semangat kebersamaan dan gotong royong ini terus terjaga di Desa Tengengwetan,” tambahnya.
Makna Filosofi Tradisi Munggah Molo
Perangkat Desa Tengengwetan, Musyafa, menjelaskan bahwa prosesi Munggah Molo merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Jawa yang dilakukan ketika rangka atap rumah telah selesai dipasang.
Menurutnya, tradisi tersebut memiliki makna spiritual sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT sekaligus doa agar rumah yang dibangun menjadi tempat tinggal yang aman, nyaman, dan penuh keberkahan.
“Tradisi Munggah Molo dilakukan ketika bagian atas rumah sudah selesai dipasang. Prosesi ini merupakan bentuk doa agar rumah yang akan dihuni terlindungi dari segala hal yang tidak baik serta membawa keberkahan bagi penghuninya,” jelas Musyafa.
Dalam prosesi tersebut terdapat berbagai perlengkapan yang masing-masing memiliki filosofi tersendiri. Ayam panggang, nasi, mi, dan berbagai hidangan menjadi simbol rasa syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT. Tebu melambangkan harapan agar kehidupan penghuni rumah selalu manis, berkecukupan, dan penuh kebahagiaan. Kelapa beserta santan hingga minyaknya menjadi simbol kemakmuran dan rezeki yang terus mengalir. Selendang yang dipasang pada bagian rumah melambangkan usus manusia sebagai pengingat agar penghuni rumah memiliki kesabaran dan panjang umur.
Sementara itu, payung menjadi simbol perlindungan dari Allah SWT agar seluruh anggota keluarga senantiasa berada dalam lindungan-Nya.
“Intinya, semua simbol yang digunakan merupakan doa agar penghuni rumah tidak kekurangan sandang, pangan, maupun papan, hidup sejahtera, serta selalu mendapatkan perlindungan dari Allah SWT,” tutur Musyafa.
Tradisi Munggah Molo yang masih dilestarikan masyarakat Desa Tengengwetan menjadi bukti bahwa nilai gotong royong dan kearifan lokal tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Semangat kebersamaan yang ditunjukkan warga tidak hanya mempercepat pembangunan rumah bagi mereka yang membutuhkan, tetapi juga mempererat persaudaraan antarwarga melalui budaya dan doa bersama.(mit/red).











Komentar