Lokakarya Mini Lintas Sektoral Kec. Candisari, Kota Semarang (Foto wb)
Metropos.id, Semarang – Lokmin Linsek (Loka Karya Mini Lintas Sektoral) Kec. Candisari terasa spesial dengan kehadiran 2 anggota DPRD Kota Semarang, Ketua dan Sekretaris Komisi D, Swasti Aswagati, M.Pd dan Dr. Anang Budi Utomo, SMn, M.Pd di Balai Kec. Candisari, Jumat (11/8/2023) pagi.
Dalam paparannya, Anang Budi Utomo menyoroti kasus Stunting di wilayah Kec. Candisari yang masih cukup tinggi.
Ia berharap peningkatan kerjasama pihak-pihak terkait untuk memberikan perhatian lebih dalam penanganan Stunting.
“Secara umum di Candisari masih cukup tinggi, hingga Juli 2023 tercatat ada 30 kasus Stunting. Untuk itu dibutuhkan kerja keras lagi dan koordinasi dengan pemangku wilayah, lurah dan para Kader Posyandu dalam menangani Stunting,” ucap Anang.
Kehadiran Anang dan Swasti dalam Rakor Lintas Sektor di Candisari dikatakan Anang merupakan fungsi pengawasan dengan melakukan pengecekan secara langsung kondisi-kondisi tertentu di beberapa wilayah kecamatan.
“Kami melakukan pengecekan sejauh mana capaian-capaian yang telah dicapai di Kec. Candisari. Sekaligus memberi motivasi kepada masyarakat di wilayah Kec. Candisari untuk lebih fokus pada masalah Stunting, demam berdarah dan TBC,” kata Anang.
Menurut Anang, kasus Stunting di Kec. Candisari sudah cukup bagus dalam penanganannya, dan menempati urutan ke-13 dari 16 kecamatan se-Kota Semarang.
“Jadi yang tertinggi, yang terjelek kasusnya,” imbuh Anang.
Selanjutnya Anang berharap kepada para kader posyandu untuk lebih meningkatkan dan melanjutkan tren positif yang telah dicapai, sehingga kasus Stunting di Kota Semarang dapat turun.
“Para kader ini kita apresiasi untuk meningkatkan dan melanjutkan kembali tren positif ini. Kalo DB (Demam Berdarah) ya menekan angka bebas jentiknya, sehingga kasusnya mengecil. Kalo Stunting ya intervensi yang dilakukan oleh para kader agar melakukan dengan sungguh-sungguh sehingga nanti bisa lebih rendah, Yang TBC supaya dilakukan pendampingan minum obatnya. Karena pengobatannya butuh waktu cukup lama. Tahap pertama 6 bulan, kalo 6 bulan ini pernah bolong maka harus mengulangi lagi 9 bulan. Kalo 9 bulan ini juga bolong nanti mengulangi lagi sampai 12 bulan. Ini yang kita khawatir, dia resisten obat,” harap Anang.
“Jadi minum obat sudah nggak ngefek itu. Ini yang tadi kita tekankan,” imbuhnya.
Dijelaskan Anang, Kota Semarang tetap masih berjuang dengan menurunkan kasus Stunting. Ditargetkan 2024 kasusnya dapat turun, demam berdarah juga turun dengan penerapan teknologi Wolf Bachia.
“Penerapan teknologi Wolbachia ini Kec. Tembalang sebagai pionernya karena kasus DB nya paling tinggi,” jelas Anang.
Dengan teknologi Wolbachia ini diharapkan jika nyamuk menggigit orang tidak menularkan, karena ada anti virusnya. Dan kalau nyamuk ini kawin dengan nyamuk aedes aegipty maka nyamuk tersebut tidak akan menularkan DBD (demam berdarah dengeu) sehingga virus dengeu tidak akan menular ke tubuh manusia.
“Jadi nyamuk yang sudah dikawini Wolbachia ini sudah tidak bisa menularkan demam berdarah lagi,” ucapnya.
Dengan masih tingginya kasus Stunting dan DB di wilayah Candisari ini, Anang berharap para kader dan aparat pemerintah, mulai camat dan lurah untuk sering terjun kebawah.
“Kalau penguasa wilayah, lurah, camat tidak faham hanya njagakke (berharap) kader ya gak bisa. Sebaliknya, kader ya harus dibimbing lurah dengan kebijakan yang ada, bagaimana bisa menggerakkan RT/RW serta tokoh masyarakat dan stakeholder lainnya sangat penting,” pungkas Anang.
Ditempat sama, Camat Candisari Eka Kriswati, SH MM menuturkan, dengan kegiatan linsek sangat memberikan bermanfaat dalam membangun kebersamaan bersama lembaga yang lain. Sehingga dapat saling memahami dan mengerti informasi terkait perkembangan di wilayah, khususnya Kec. Candisari.
“Kita konsepnya kan bergerak bersama. Bersama 3 pilar, Polsek, koramil dan DKK Kota Semarang serta LPMK, Lurah, KUA, Kapus Kagok dan Candi, Korsatpen, Kader Posyandu, PKK dan lainnya, kita samakan persepsi dalam upaya menurunkan kasus Stunting di wilayah Candisari,” ucap Eka.
“Mudah-mudahan dengan adanya koordinasi linsek ini, Candisari bisa Zero Stunting,” harapnya.
Ditambahkan Eka, hingga akhir Juli 2023 di Kec. Candisari tercatat kasus Stunting masih ada 30 kasus.
Dari 30 kasus Stunting ini nantinya akan dijadikan cluster, mana yang dapat diintervensi langsung dan mana yang ada disertai penyakit bawaan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
“Jadi nanti akan kita keroyok bersama-sama dalam menangani Stunting ini, Kita harus kerja keras dan kerja cerdas bersama masyarakat agar harapan ibu Wali Kota Semarang tahun 2024 Kota Semarang status Zero Stunting tercapai,” pungkas Eka mantan Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang kepada Metropos id. (wib/red).












Komentar