Metropos.id,Pekalongan – Tradisi syawalan yang rutin dilakukan oleh masyarakat di wilayah kelurahan Krapyak lor dan Krapyak kidul kecamatan Pekalongan Utara sudah berlangsung sejak ratusan silam, yakni sekitar tahun 1885.
Orang pertama kali yang mempelopori perayaan syawalan adalah KH Abdullah Sirodj, ulama Krapyak yang masih keturunan Tumenggung Bahurekso, salah satu Senopati kerajaan Mataram di Pekalongan.
Menurut Ustad Abdurrochim Umar, salah seorang cucu KH Abdullah Sirodj, awalnya KH Abdullah Sirodj rutin melaksanakan puasa Syawal, yaitu sehari setelah lebaran pertama atau tanggal 2 hingga 7 syawal. Puasa ini kemudian diikuti oleh sebagian masyarakat di sekitar Krapyak.
Tradisi puasa setelah lebaran ini kemudian diketahui oleh masyarakat di luar Krapyak, sehingga meskipun hari raya, mereka tidak berkunjung atau bersilaturahmi ke sana demi menghormati masyarakat Krapyak yang masih melanjutkan ibadah puasa Syawal.
“Dulu di Krapyak sehabis sholat ied, suasananya masih seperti Ramadhan. Baru pada hari ke 8 Syawal suasana lebarannya benar-benar terasa,” tuturnya.
Ustadz Abdurrochim juga menjelaskan, pada 1855 KH Abdullah Sirodj mendirikan sebuah organisasi bernama Warroqotul Islam. Organisasi ini bertujuan menggembleng para pemuda baik jasmani maupun rohani sebagai upaya persiapan melawan kompeni Belanda.
“Baru berjalan beberapa bulan, organisasi yang memiliki anggota 160 pemuda ini telah tercium oleh mata-mata Belanda, sehingga kemudian kompeni Belanda berniat menangkap KH Abdullah Sirodj hidup atau mati,” ungkapnya.
Mengingat organisasi Warroqotul Islam ini belum begitu kuat, salah seorang santrinya kemudian mengusulkan agar KH Abdullah Sirodj meninggalkan Pekalongan dan hijrah ke daerah Payaman, Magelang.
“Mbah kyai kita belum kuat untuk melawan Belanda, nanti sia-sia saja. Di Magelang, Mbah kyai kemudian diangkat RAT Agama atau yang sekarang disebut Ketua Pengadilan Agama Magelang, bahkan sempat dijadikan menantu Bupati Magelang,” lanjutnya.
Yang menjadi khas dalam tradisi syawalan di Krapyak Pekalongan adalah disajikannya makanan berupa lopis, semacam kudapan yang terbuat dari ketan. Mengapa yang dibuat pada waktu syawalan adalah lopis bukan ketupat, hal ini sebagai tanda yang membedakan antara tanggal 1 Syawal dengan 8 Syawal.
“Kalau tanggal 1 Syawal ya tentu sebagian besar orang akan memasak ketupat. Nah sebagai pembeda maka masyarakat Krapyak membuat lopis, ” ungkapnya .
Lalu mengapa dulu KH Abdullah Sirodj memilih lopis sebagai simbol dalam acara syawalan ini?
Menurut KH Zainudin Ismail, tokoh masyarakat setempat, lopis yang terbuat dari bahan dasar beras ketan memiliki daya rekat yang kuat, sehingga makanan ini diibaratkan sebagai lambang persatuan warga.
“Dulu waktu Presiden Bung Karno datang dalam rapat Akbar di lapangan Kebon Rodjo tahun 1950, beliau berpesan agar rakyat Pekalongan bersatu seperti lopis, sehingga kemudian setiap syawalan kita selalu memotong lopis,” katanya.(Mit/Red)











Komentar