METROPOS.id, Boyolali – Setidaknya hampir 436 hektare lahan di kawasan hutan Gunung Merbabu rusak akibat kebakaran, termasuk juga merusak 39 sumber mata air dan ekosistemnya.
Upaya pemadaman masih dilakukan dengan cara manual, sejumlah unsur terlibat dalam upaya pemadaman ini, selain karena cuaca, upaya pemadaman juga terkendala medan yang berat. Lokasi kebakaran jaraknya sekitar 5 jam dari desa terdekat.
Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meninjau langsung relawan Gunung Merbabu di Posko Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sobat) di Dukuh Wonolelo, Desa Ngagrong, Kecamatan Gladag Sari, Minggu (15/9/2019).
Ganjar mengatakan potensi kebakaran diperkirakan sampai bulan November, dirinya juga memberi pemahaman kepada masyarakat untuk tidak mencari rumput untuk pakan ternak dikawasan Taman Nasional Gunung Merbabu.
Pihaknya mengusulkan pembentukan Tim patroli khusus, utamanya di desa terakhir sebelum puncak Merbabu seperti Desa Ngagrong, Kecamatan Gladag Sari, lalu Desa Pakis, Kabupaten Magelang dan wilayah Kopeng Kabupaten Semarang. Dibentuknya Tim tersebut bertujuan melakukan kontrol terhadap aktivitas warga sekaligus bertugas memberi sosialisasi terkait bahaya dan potensi karhutla.
Upaya juga terus dilakukan tim gabungan, termasuk personel dari TNI. Sekitar 300 personel tim gabungan yang terdiri dari TNI, Kepolisian, BTNGMb, BPBD, relawan dan masyarakat, yang naik melalui basecam Remaja Pecinta Alam (Rempala), Ngagrong.
Menambahkan Dandim 0724/Boyolali, Letkol (Kav) Herman Taryaman mengatakan upaya pemadaman kebakatan terus dilakukan tim gabungan dari TNI, Kepolisian, BTNGb, BPBD, relawan dan masyarakat sekitar 300 personil.Personel yang naik dibagi menjadi beberapa tim, sedangkan pemadaman nantinya dilakukan dengan cara manual.
“Dibagi menjadi beberapa tim, naik ke pos-pos di atas untuk penyekatan api,” terangnya.
Penyekatan api menurut Dandim dilakukan untuk mencegah api menjalar ke arah utara dan selatan lereng Gunung Merbabu. Dengan penyekatan ini diharapkan dapat mengarahkan api ke atas menuju puncak. Hal ini dikarenakan selain teriknya saat musim kemarau ini, juga karena kondisi cuaca angin yang kencang.(Mul/Red).











Komentar