METROPOS.ID, Sukoharjo – Dihadiri ratusan undangan terdiri petinggi kalangan sejumlah kampus, dan tamu undangan pejabat lainnya, Prof. Ir. Sarjito, M.T., Ph.D., IPM resmi dikukuhkan menjadi Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam bidang Ilmu Tehnik.
Ia menjadi Guru Besar ke -28 dengan menyampaikan orasi ilmiah berjudul Peran Komputasi dan Simulasi Numerik untuk Peningkatan Efisiensi dalam Pemanfaatan Energi diauditorium Mohamad Jazman, Sabtu (8/2/2020).
“Dalam sebuah penelitian, dibutuhkan prototype dengan dimensi besar seukuran benda aslinya. Sehingga memerlukan bahan baku yang sudah tentu berbiaya mahal dan dengan tingkat kesulitan tinggi,” papar Sarjito.
Pria kelahiran Klaten Tahun 1962 yang juga menjabat Wakil Rektor II ini, usai pengukuhan menyampaikannya, perlunya mengembangkan sistem komputasi dan simulasi numerik. Melalui sistem tersebut diyakini mampu mengurangi trial dan error yang biasa terjadi dalam riset. Dengan cara ini, peneliti bisa melihat variabel yang ingin dihasilkan seperti dengan cara eksperimen di laboratorium.
“Sebagai contoh, dalam riset dan penelitian di laboratorium, untuk melihat proses penguapan semprotan air dengan model matematik dan menyimulasikannya langsung agar diperoleh pengamatan laju penguapan semprotan air, kecepatan, dan data lainnya,” katanya.
Dengan komputasi, papar Sardjito, senyawa pembakaran bahan bakar juga bisa disimulasikan secara numerik. Selain itu, juga simulasi numerik emisi gas hasil pembakaran. Dengan cara seperti ini, penelitian dan riset sudah bisa dilakukan secara komputasi.
“Melalui simulasi numerik, istilah gagal produk, gagal desain, dan kegagalan lain bisa diantisipasi dengan melihat hasilnya. Dari hasil penelitian ini, kami merekomendasikan para peneliti secara bertahap dan sistematik meningkatkan penggunaan pendekatan baru ini. Karena relatif cepat dan tidak berbiaya tinggi untuk pengembangan energi,” jelasnya.
Sistem komputasi dan simulasi numerik saat ini diperlukan untuk penelitian energi pengganti fosil. Saat ini Indonesia masih tergantung dengan bahan bakar fosil yang tak terbarukan. Sehingga dibutuhkan upaya untuk meningkatkan efesiensi dengan usaha konservasi energi melalui diversifikasi energi yang mendukung energi baru terbarukan.
“Pencarian energi alternatif di luar bahan baku fosil dan peningkatan efisiensi energi melalui komputasi dan simulasi numerik akan mendukung pemanfaatan perangkat keras dan perangkat lunak. Sehingga efisiensi penggunaan energi secara luas dapat tercapai,” pungkasnya. (Naura/Red).











Komentar