METROPOS.ID, Kendal – Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi dan informasi membuat kurangnya perhatian kepada pemuda terhadap seni dan budaya asli yang dimiliki Indonesia yang semestinya dilestarikan, namun terkesan tenggelam dengan hadirnya budaya asing yang masuk ke pelosok desa. Hal tersebut disampaikan tokoh masyarakat yang peduli budaya Eri Wijayanto, Rabu (19/2/2020) di sela Festival Sewu Tumpeng.
Dirinya mengatakan, masuknya budaya barat mendapat responsif oleh kalangan remaja tanpa ada filter dari budaya lokal dapat mengakibatkan para pemuda keracunan dalam memahami dan membedakan budaya asli milik Indonesia dengan budaya asing.
“Melihat kondisi seperti ini sudah saatnya kita memberikan perhatian khusus kepada organisasi kepemudaan agar tidak salah dalam membedakan budaya asli Indonesia dan budaya asing,” kata Eri.
Eri Wijayanto bersama pemuda dan pemudi Ds. Tambahrejo menggali potensi budaya lokal dengan menggelar festival Sewu Tumpeng dan Pentas Seni Budaya.
“Kegiatan ini sebagai wujud peduli budaya lokal dan kami mengajak para pemuda agar ikut melestarikan budaya asli Indonesia,” ujarnya.
Sentara Camat Pageruyung Dwi Cahyono Suryo mengatakan, acara festifal sewu tumpeng ini direncanakan akan digelar di setiap desa.
“Acara yang dibuat oleh pemuda Ds. Tambahrejo ini, nantinya akan kita terapkan di beberapa desa,” imbuhnya. (Eko/Red).







Komentar