Ketua LAPAAN RI, BRM Kusumo Putro (foto Naura)
Nakes dinilai paling rentan terpapar lantaran berada di garda depan dalam pencegahan penyebaran virus Corona.
Namun begitu, keputusan hanya nakes saja yang mendapat prioritas mendapat suntikan vaksin produk Sinovac itu dinilai kurang tepat. Semestinya, selain nakes, tenaga didik seperti guru, dosen dan personal pendukung pendidikan juga masuk golongan yang diutamakan untuk di suntik vaksin.
Seperti disampaikan salah satu tokoh masyarakat Kota Solo, BRM Kusumo Putro, bahwa guru dan dosen seharusnya juga masuk prioritas sebagai penerima vaksin agar Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka di sekolah atau bangku perkuliahan bisa segera dibuka kembali.
“Saat kami melihat perkembangan positif terkait vaksinasi kepada nakes di Kota Solo beberapa hari lalu. Kami percaya bahwa guru, dosen, dan personel pendukung pendidikan harus dianggap sebagai kelompok prioritas,” kata Kusumo kepada wartawan, Minggu (17/1/2021).
Ia menegaskan, ketika sekolah dan fasilitas pendidikan lainnya hampir 1 tahun terakhir ditutup untuk mencegah penularan virus Corona, guru, dosen, dan personel pendukungnya tetap berada di garis depan. Mereka tetap mengajar meskipun kelas dipindahkan secara daring.
“Vaksinasi prioritas terhadap tenaga didik ini sesuai dengan seruan Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pada akhir Desember tahun lalu. Bahwa guru harus dianggap sebagai kelompok prioritas untuk di suntik vaksin,” tegasnya.
Mengutip data UNESCO, Kusumo mengungkapkan pandemi COVID -19 mengancam 577 juta pelajar di dunia dengan total ada 39 negara yang menerapkan penutupan sekolah, termasuk Indonesia. Total jumlah pelajar yang berpotensi berisiko dari pendidikan pra-sekolah dasar hingga menengah atas adalah kurang lebih 577.305.660.
“Ketika kita membahas pendidikan maka kita juga berbicara tentang masa depan bangsa. Inilah mengapa pendidikan harus senantiasa mendapat perhatian, khususnya terhadap guru agar masa depan bangsa kita dapat terjamin. Bila tidak, maka akan menyebabkan ancaman serius terhadap keberlangsungan bangsa kita di masa depan,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah harus melakukan upaya terbaik agar pandemi COVID -19 tidak menghentikan keberlangsungan dunia pendidikan, yakni memprioritaskan vaksinasi kepada tenaga didik. Ketika nanti sekolah dibuka kembali, para guru akan kembali dengan berani masuk kelas bertatap muka dengan anak didiknya. Sebuah momen yang saat ini sangat dinantikan.
“Pemerintah harus segera merubah kebijakan tentang prioritas penerima vaksinasi. Masukkan guru, dosen dan tenaga pengajar lainnya dalam daftar prioritas utama, seperti pejabat negara dan beberapa nakes yang sudah terlebih dulu di suntik vaksin beberapa waktu lalu,” tegas pria yang juga Ketua Lembaga Penyelamat Aset dan Anggaran Belanja Negara (LAPAAN) RI ini.
Ditambahkan, pentingnya tenaga didik menjadi prioritas disuntik vaksin adalah untuk menghindari terjadinya penurunan kualitas pendidikan akibat menurunnya mental dan motivasi belajar siswa karena terlalu lama tidak masuk sekolah. Bisa jadi mereka terbebani tugas selama mengikuti pembelajaran online.
“Jadi, jangan sampai dunia pendidikan Indonesia nanti dikejutkan munculnya generasi “Mak Jegagik” (tiba-tiba) lulus. Tidak ada KBM di sekolah, tidak pernah bertemu guru tapi tahu – tahu lulus atau naik kelas. Tidak pernah masuk kuliah, tahu – tahu sudah naik semesternya. Maka tidak ada jalan lain kecuali mempercepat vaksinasi bagi seluruh rakyat Indonesia,” tandas Kusumo. (Naura/Red).











Komentar