Ilustrasi
Metropos.id, Jepara – Di tengah masa pandemi, kasus DBD (Demam Berdarah Dengue) mulai meningkat lagi. Laporan Kementerian Kesehatan mencatat jumlah kasus DBD mencapai lebih dari 700 ribu kasus. Pemerintah meminta masyarakat waspada ancaman DBD di saat masih melawan COVID-19.
Saat ini merupakan masa penularan penyakit infeksi Dengue terutama bagi daerah-daerah yang intensitas curah hujan cukup tinggi, dimana tempat penampungan air akan menjadi sarang utama bagi perkembangbiakan nyamuk aedes aegpty, sehingga masyarakat tetap perlu waspada dan mengambil upaya pencegahan dengan melakukan 3M, yakni menguras penampungan air bersih atau mengeringkan genangan air, menutup kolam atau wadah penampungan air dan mengubur barang bekas atau mendaur ulang limbah bekas agar tidak menjadi sarang nyamuk.
Sementara itu, ciri-ciri gejala DBD tidak langsung muncul. Seseorang baru merasakan gejala pada 4 hingga 10 hari setelah digigit nyamuk bervirus dengue. Gejala paling umum yaitu demam tinggi hingga 40 derajat celcius. Bintik-bintik merah yang muncul di permukaan kulit merupakan tanda terjadinya pendarahan pada kulit akibat penurunan trombosit.
DBD bisa berkembang menjadi kondisi berat dan merupakan kegawatan, yang disebut dengan dengue shock, atau DSS (dengue shock syndrome)Perlu diwaspadi apabila muncul gejalanya berupa muntah, nyeri perut, perubahan suhu tubuh dari demam menjadi dingin atau hipotermia, dan melambatnya denyut jantung, hal ini dapat menyebabkan kematian ketika penderitanya mengalami syok karena perdarahan.
Sampai saat ini belum ada obat spesifik untuk melawan atau menyembuhkan DBD. Pemberian obat hanya ditujukan untuk mengurangi gejalanya, misalnya demam, nyerinya, serta mencegah komplikasi. Selain itu, penderita DBD dianjurkan untuk banyak istirahat dan cukup minum agar tidak mengalami dehidrasi.
Mari lindungi diri kita, lindungi keluarga, mulai dari rumah untuk melawan COVID-19 dan mencegah DBD.
Kasus DBD mulai merebak di Kab. Jepara, Jateng. Di awal tahun ini sudah ada 3 anak meninggal akibat DBD.
Kabid (Kepala Bidang) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes (Dinas Kesehatan) Kab. Jepara, Eko Cahyo Puspeno, mengatakan 2 anak yang meninggal warga Kec. Welahan, Kec. Kedung dan Kec. Kalinyamatan.
“Yang Welahan itu satu rumah, yang sakit itu bapak, ibu, dan tiga anak. Yang meninggal yang mbarep (anak pertama), usianya 11 tahun,” ujar Eko, Jumat, (7/1/2022).
Dari keterangan orang tuanya, sebelumnya sudah dilakukan pemeriksaan di salah satu klinik. Kemudian dirujuk ke rumah sakit di Kudus. Anggota keluarga lainnya, saat ini masih dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU).
“Sebenarnya sudah berobat, diperiksa laboratorium dan dirawat. Tapi mungkin, karena DBD yang jenisnya ganas. Terus terjadi perburukan. Dia sebenarnya butuh tranfusi plasma waktu itu. Mencari donor agak kesulitan. Donor dari darahnya bapaknya itu katanya masih kurang, intinya seperti itu,” papar Eko.
Sebelumnya, seorang anak berusia 7 tahun di Desa Menganti, Kec. Kedung nyawanya tak tertolong. Usia anak di Desa Menganti yang meninggal 7 tahun.
“Kita kemarin ada lagi, yang meninggal itu satu lagi di Desa Menganti,” kata Eko.
Terpisah, Kades Kriyan, Kec. Kalinyamatan, Ahmad Khanafi, mengatakan di awal tahun ini satu warganya yang masih berusia 6 tahun meninggal dunia. Diduga, anak tersebut meninggal lantaran DBD.
“Awalnya anaknya ini baik-baik saja, terus tiba-tiba panas (demam). Sudah sempat dibawa ke rumah sakit tapi tidak tertolong,” kata Khanafi.
Saat ini ada 6 anak-anak warga Desa Kriyan yang dirawat di rumah sakit lantaran DBD. Guna mencegah penularan, hari ini dilakukan pengasapan oleh Sahabat Lestari bekerjasama dengan Puskesmas Kalinyamatan. (Ninik/Red)











Komentar