Saat sarasehan budaya di Pendapa Kinanthi Wonolopo, Mijen, Semarang. (Foto Wb)
Metropos.id, Semarang – Keris atau dalam pengetahuan perkerisan Jawa disebut Padhuwungan sangat menarik untuk dikupas.
Keris pada jaman dahulu mempunyai peran sebagai senjata dalam peperangan. Namun penggunaan pada masa kini, keris lebih merupakan sebagai aksesoris (ageman) dalam berbusana. Selain itu keris memiliki simbol budaya dan menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya.
Sebagai senjata maupun dalam pandangan spiritual dhuwung (keris) dianggap mempunyai kekuatan magis tak jarang dijadikan objek dalam sebuah ritual. Namun bagi penggemar tosan aji, keris lebih dipandang sebagai sebuah karya seni luhur yang mempunyai makna dan filosofi tinggi bagi penghobbi tosan aji.
Menelisik seluk beluk perkerisan, Permadani Cabang Kec. Mijen menggelar sarasehan budaya dengan tema “Kawruh Padhuwungan” bertempat di Pendapa Kinanthi, Wonolopo, Kec. Mijen, Semarang, Rabu (14/6/2023) malam.
Hadir dalam sarasehan selapan setiap Rabu Legi (Rebo Legen), penasehat Permadani Cab. Mijen Drs. Bambang Supriyono, M.Pd, Ketua DPP Permadani Drs. Suyitno, M.Pd, Ketua KSBN (Komite Seni Budaya Nasional) Jateng Agus Paryanto, Ketua DPW Permadani Jateng Drs. YA Pedi Hendriadi.
Selain itu hadir pula Ketua DPD Permadani Kota Semarang Subardo, SH, Ketua Permadani Cab. Kec. Mijen Edi Purnomo, siswa pawiyatan bregada 5 serta pamong dan keluarga besar Permadani Cab. Mijen. Dengan narasumber sarasehan, KRT. HA. Dawud Noto Ajinagoro.
“Padhuwungan masih dianggap sebagai benda yang mempunyai kekuatan magis (mistis). Nah, sebenarnya jauh dari itu. Jadi anggapan masyarakat terhadap dhuwung ini banyak yang keliru dalam memandang keris. Sehingga banyak yang merasa khawatir dan takut untuk memilikinya,” ungkap Kanjeng Dawud kepada metropos.id usai sarasehan.
Dijelaskan Njeng Dawud, melalui sarasehan yang dilaksanakan oleh Permadani Cab. Mijen ini diharapkan peserta dapat memahami hal-hal terkait Padhuwungan secara benar dan jauh dari hal yang berbau musyrik dan tidak merasa takut lagi untuk memiliki keris.
“Dengan sarasehan seperti ini besar sekali manfaatnya dalam rangka tidak memusyrikan dan anti dhuwung. Tetapi bagaimana orang cinta dhuwung, tapi tidak mempunyai rasa takut,” beber Njeng Dawud.
Njeng Dawud mengambil contoh yang sering menjadi pertanyaan masyarakat fenomena sebuah keris yang dapat berdiri hingga dianggap dalam keris tersebut mempunyai kekuatan magis.
Dijelaskannya, adanya sebuah keris yang dapat berdiri secara ilmiah dijabarkan Njeng Dawud hal tersebut karena adanya keseimbangan fisik dalam proses pembuatannya.
“Jadi adanya keseimbangan fisik keris itu sehingga dia bisa berdiri. Keberimbangan sebuah keris biasanya yang pendek itu tebal, yang panjang, tipis. Jadi imbang. Jadi samasekali bukan karena magis,” ujarnya.
Saat ditanyakan sebuah keris mempunyai kekuatan mistis, Njeng Dawud tidak menafikan bahwa hal itu ada atau tidak ada, Wallahu A’lam, bergantung pada yang memiliki keris itu sendiri.
Ditempat sama, Ketua DPD Permadani Kota Semarang, Subardo, SH mengaku senang, karena dihadiri banyak peserta, sehingga diharapkan dapat membuka wawasan terkait Padhuwungan.
“Ini memberikan wawasan yang lebih luas. Karena narasumbernya orang yang sangat paham tentang perkerisan. Dan beliau (Kanjeng Dawud) sudah masuk level pakar sekaligus penggemar dan juga kolektor keris di Kota Semarang,” tutur Subardo yang juga berprofesi Polisi dengan jabatan Kanitreskrim Polsek Mijen, Polrestabes Semarang.
Bardo pun beranggapan bahwa keris adalah merupakan warisan leluhur yang patut untuk dilestarikan dari sisi budaya Nusantara. Karena proses pembuatan keris mempunyai tingkat kerumitan yang tinggi dibanding pembuatan senjata sejenis.
“Jadi kita tidak memandang dari sisi ghaibnya. Tetapi keris merupakan benda budaya hasil karya para leluhur yang harus kita selamatkan, kita lestarikan dan kita pahami apa yang terkandung didalam filosofi dan makna didalam keris tersebut,” terang Subardo.
“Bagaimanapun juga keris sudah mendapat pengakuan dari badan dunia UNESCO sebagai bagian dari benda budaya asli orang Indonesia,” tandasnya.
Sarasehan Budaya yang digawangi oleh Permadani Cab. Kec. Mijen ini rutin digelar sekali dalam sebulan di Pendapa Kinanthi Wonolopo, Kec. Mijen.
DPD, DPW serta DPP Permadani, dikatakan Subardo akan selalu mendukung dan mensupport kegiatan sarasehan oleh Permadani Cab. Mijen.
Dikatakannya, hal tersebut tak lepas dari tanggungjawab keluarga Permadani dalam rangka nduduk, ndudah, mekar ngrembakakke budaya yang menjadi semboyan Permadani. (wb/red).












Komentar