Narasumber dari DPP Permadani saat memberikan materi pelatihan panatacara. (Ft.dok.Permadani Mijen).
METROPOS.ID II Semarang – Kesantunan bahasa Jawa yang penuh makna dengan nuansa filosofi yang sangat dalam sering kita dengarkan saat pembawa acara atau MC membawakan acara pada pertemuan maupun acara dalam masyarakat Jawa dan sering kita dengarkan saat acara resepsi pernikahan adat Jawa.
Namun tentu saja hal ini tidak instan dapat dijalankan oleh semua orang, dibutuhkan skill atau keterampilan khusus yang harus dimiliki oleh seseorang hingga mampu membawakan sebuah acara dengan baik dan benar sehingga memenuhi standar sebagai pembawa acara (MC) berbahasa Jawa yang sering disebut dengan panatacara, pranatacara, pambyawara, pranata adicara, pranata titi laksana atau pranata titi laksitaning adicara.
Dalam upaya memberikan pemahaman terkait adat budaya dan penggunaan bahasa Jawa yang baik, Forum Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kec. Mijen, Semarang menggelar Pelatihan Panatacara bertempat di Balai Kec. Mijen, Sabtu pagi (30/9/2023).
Pelatihan Panatacara dibuka Camat Mijen Didik Dwi Hartono, SH MM dengan menghadirkan narasumber Drs. Suka Prayitno dan Basuki Gunarto, S.Pd dari DPP Permadani serta dihadiri sesepuh Permadani Cabang Mijen Kanjeng Dawud dan Pamong Permadani Cabang Mijen.
“Peserta Pelatihan Panatacara diikuti 42 orang perwakilan dari 14 kelurahan yang ada di Kec. Mijen,” ujar Edi Purnomo, Ketua Permadani (Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia) Cabang Mijen, Semarang melalui pesan WhatApp kepada metropos.id, Sabtu (30/9/2023).
Dikatakan Edi, dengan diadakannya pelatihan panatacara ini, pihaknya berharap dapat memberikan sedikit pemahaman kepada masyarakat dalam hal berbahasa Jawa utamanya penggunaan bahasa Jawa sehari-hari dan bahasa saat menjadi pembawa acara dalam masyarakat.
Selain itu, dirinya yang juga sebagai warga Permadani ingin mengajak masyarakat untuk lebih mencintai budayanya sendiri dan turut serta nguri-uri budaya, menjaga dan melestarikan adat budaya Jawa.
“Dengan pelatihan ini kami berharap dapat sedikit memberikan pembekalan serta pemahaman kepada masyarakat dalam penggunaan bahasa Jawa yang baik, baik dalam bahasa sehari-hari maupun bahasa saat membawakan sebuah acara,” tutur Edi.
Selanjutnya Edi pun memberikan kesempatan kepada warga masyarakat yang berkeinginan dan berminat memelajari lebih jauh terkait kapanatacaran ini untuk dapat mengikuti pawiyatan atau kursus panatacara dan pamedhar sabda yang dilaksanakan oleh Permadani Kota Semarang dibeberapa tempat termasuk di Kec. Mijen yang di laksanakan di Pendapa Kinanthi Wonolopo Mijen dan terbuka untuk umum.
Dalam pelatihan panatacara, narasumber memberikan materi Medhar Sabda dan konsep belajar bahasa Jawa yang baik dilanjutkan praktik secara langsung bagi peserta dengan menjadi pembawa acara berbahasa Jawa atau sebagai Panatacara. (wib/red).












Komentar