Camat Mijen dan Edi Purnomo (busana Jawa) saat menghadiri acara Barikan warga Sidodadi, Dudak, Kecamatan Mijen, Semarang. (ft.had).
METROPOS.ID II Semarang – Warga Kampung Dudak, Sidodadi, Kelurahan Mijen dan Jatibarang, Kec. Mijen, Kota Semarang gelar acara tradisi Barikan, di sepanjang jalan Kampung Dudak, Kamis (14/12/2023) sore.
Barikan adalah merupakan tradisi turun temurun warga Dudak yang dimaknai sebagai sebuah pengharapan dari para leluhur sebelumnya kala mendirikan Kampung Dudak untuk menjadi lebih maju, lebih baik dan lebih sejahtera warganya.
Kampung Dudak, Sidodadi, setelah ada pemekaran dari Pemkot Semarang dipecah menjadi 2 kelurahan, yaitu Kelurahan Jatibarang dan Mijen.
“Sejarah awal Kampung Dudak didirikan oleh sesepuh desa saat itu Mbah Degol alias Tejo Lelono pada tahun 1700an,” tutur Sutrisno, salah satu tokoh masyarakat Kampung Dudak RT 02 RW 04 Kelurahan Mijen kepada metropos.id usai acara Barikan.
Barikan selalu diperingati oleh warga Kampung Dudak, Sidodadi, Kelurahan Mijen dan Jatibarang sebagai bentuk mengenang pendiri Kampung Dudak, dan diperingati warga Dudak dengan sebutan Haul Mbah Degol.
Tokoh masyarakat lainnya, Sabar, warga Sidodadi RT 08/RW 03 Mijen, Semarang, mengisahkan cerita berdirinya Kampung Dudak, Sidodadi dirintis oleh Mbah Degol dimana saat itu masih belantara dengan penghuni berbagai macam mahluk halus atau jin berwujud macan gerung condromowo termasuk mengalahkan begal dan pichu yang menguasai wilayah.
“Dulunya Dudak ini Perdikan yang dibebaskan tidak bayar pajak oleh Bupati Kendal kala itu. Beliau mempunyai anak mantu bernama Ahmad Ngali yang juga disebut sebagai Mbah Wonoyudo pengembara dari Kedu. Hingga berkeluarga dan mempunyai anak yang ada di Trisobo, Boja, Kendal sehingga mempunyai tradisi yang sama yaitu Barikan,” tutur Sabar.
Adapun ciri khas dari tradisi Barikan sendiri selalu ada sajian makanan khas yaitu kupat dan lepet. Namun dikatakan Sabar kenapa selalu ada kupat dan lepet hingga sekarangpun belum dapat menjelaskan secara pasti pemaknaan hadirnya makanan khas terbuat dari beras dibungkus daun kelapa ini.
“Kenapa harus kupat dan lepet, koq nggak lontong? Ini yang masih belum dapat dijelaskan secara pasti. Namun sekilas kupat dan lepet itu mempunyai filosofi perjuangan yang berat karena untuk mendapatkan daun kelapa saat itu sangat sulit karena tidak ada pohon kelapa. Mungkin ini sebuah filososfi dari perjuangan Mbah Degol saat membuka kampung Dudak ini,” ujar Sabar.
Makanan kupat dan lepet ini biasanya sudah dibuat seminggu sebelum acara Barikan dan dibagikan kepada sanak famili, tetangga bahkan dibagikan kepada warga luar wilayah Sidodadi Dudak sebagai simbol shodakoh kepada sesama.
Kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di Kampung Dudak, Sidodadi sangat nampak dari berkembangnya ekonomi warga sekitar dengan hadirnya pabrik-pabrik yang ada di wilayah Mijen sehingga banyak warga membuka kos-kosan bagi karyawan pabrik tersebut.
“Dudak termasuk wilayah yang maju. Dengan adanya kawasan industri dekat wilayah sini sehingga banyak warga membuka kos-kosan untuk karyawan pabrik dan penuh semua penghuninya. Itulah rejeki dan barokah dari Yang Maha Kuasa melalui pendiri Dudak, Mbah Degol, dan selalu diperingati dengan Barikan haul Mbah Degol,” ungkap Sabar.
Sementara itu ditempat sama, Edi Purnomo, Ketua Permadani Cabang Mijen, memberikan apresiasi kepada warga Sidodadi, Dudak yang masih eksis nguri uri adat tradisi leluhur dengan menggelar acara Barikan.
“Barikan ini acara rutin setiap tahun mengawali acara yang lebih besar lagi yaitu Merti Dusun. Warga berkumpul bersama, makan bersama dan membagikan makanan kepada warga lainnya termasuk orang yang tengah lewat dijalan dengan makanan khas kupat dan lepet,” ucap Edi Purnomo kepada metropos.id.
Hal tersebut menurut Edi Purnomo sangat sesuai antara budaya dan agama. Dimana dengan sedekah atau shodakoh makanan mengandung makna rejeki akan selalu datang menjemput dan makan bersama merupakan wujud eratnya persaudaraan diantara warga.
Untuk itulah Edi berharap, kedepan kegiatan budaya ini harus dikemas lebih baik dan lebih bagus lagi serta melibatkan seluruh warga dan stakeholder yang lain sehingga dapat tampil lebih indah dan menarik serta dapat mengangkat UMKM setempat.
Edi yang juga Ketua Forum LPMK Kec. Mijen sangat peduli dengan perkembangan budaya di wilayah Kec. Mijen, Kota Semarang, hingga dirinya mendapat tempat di Forum LPMK Kota Semarang menjadi bagian dari LPMK Kota Semarang untuk berkiprah lebih luas mengembangkan potensi dengan jabatan Bidang Budaya.
Sebagai anggota Forum LPMK Kota Semarang membidangi kebudayaan, Edi telah menyampaikan program-program kerja kepada Pemkot Semarang melalui rapat bersama kepala dinas dan Bapeda.
Menurutnya budaya harus diperkenalkan kepada anak mulai sejak dini, sehingga diharapkan kekayaan khasanah budaya nusantara dapat lebih dikenal dan diminati anak muda guna menjaga kelestarian budaya itu sendiri.
“Budaya itu harus dikenalkan dari usia anak-anak mulai tingkat TK, SD dan SMP untuk cinta budaya. Kami berharap kurikulum yang berkaitan dengan budaya dan budi pekerti masuk ke sekolah-sekolah agar anak-anak usia sekolah mengerti, memahami dan mencintai budayanya sendiri di negeri yang kita cintai ini,” ucap Edi.
Kota Semarang sendiri saat ini sangat respek dengan membangkitkan potensi budaya dengan beragam kultur di wilayah. Untuk itu masyarakat perlu diupayakan menjadi bagian dari mengatasi persoalan dan permasalahan kultur budaya luhur bangsa Indonesia dengan keanekaragaman budaya sesuai kearifan lokal masing-masing.
“Kebudayaan itu merupakan benteng terakhir ketika bangsa mendapat berbagai macam ujian dari luar. Karena kebudayaan menjadi lem perekat bersatunya sebuah bangsa,” pungkasnya.
Hadir dalam acara Barikan dan Haul Mbah Degol warga Kampung Sidodadi, Dudak, Camat Mijen Didik Dwi Hartono, perwakilan Polsek Mijen, Lurah Jatibarang, Lurah Mijen, Babinsa dan Babhinkamtibmas serta tokoh masyarakat, ulama dan warga Kampung Sidodadi. (had/red).











Komentar