oleh

Sebanyak 50 Siswa Pawiyatan Bregada 6 Permadani Mijen Mengikuti Pendadaran

Foto : Tim penguji (meja depan) saat Pendadaran siswa Pawiyatan Panatacara Tuwin Pamedhar Sabda, Bregada 6 Kec. Mijen, Kota Semarang.(ft.edi)

METROPOS.ID || SEMARANG – Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani) Cabang Kec. Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah menggelar Pendadaran (pelaksanaan ujian) bagi Siswa Pawiyatan Panatacara Tuwin Pamedhar Sabda, Bregada (angkatan) ke-6 Kec. Mijen atau Bregada 113 Permadani Kota Semarang.

Pendadaran yang digelar di Pendapa Kinanthi, Kelurahan Wonolopo, Kec. Mijen, Semarang pada Rabu malam (18/9/2024) ini adalah merupakan ujian akhir bagi para peserta pelatihan yang meliputi ujian praktek dan ujian teori.

Ujian praktek merupakan simulasi memandu acara adat Jawa dan membaca naskah-naskah berbahasa Jawa dengan intonasi dan penjiwaan yang tepat yang dalam adat Jawa disebut Pangrumpaka atau Panyandra. Dalam ujian ini, para peserta akan diuji dalam nyandra pengantin dengan iringan gendhing-gendhing Jawa dengan menggunakan bahasa yang indah dan intonasi yang tepat.

Dan ujian ini adalah merupakan ujian tahap ke-3 dimana sebelumnya pada 21 Agustus 2024 lalu telah dilaksanakan ujian tahap pertama dengan materi ujian tertulis, meliputi sejarah, etika dan tata cara dalam upacara adat Jawa.

Adapun ujian tahap 2 telah dilaksanakan pada 11 September 2024 dengan materi ujian Pemedhar Sabda (pidato berbahasa Jawa). Dan selanjutnya semua siswa pawiyatan akan mengikuti wisuda pada 23 Oktober 2024 di Museum Ronggowarsito, Semarang.

“Dan pada malam hari ini, Rabu 18 September 2024, sebanyak 50 siswa Bregada 6 Permadani Kec. Mijen telah secara baik menyelesaikan pendadaran atau ujian wajib yaitu Panyandra atau Pangrumpaka,” tutur Edi Purnomo kepada metropos.id melalui sambungan seluler.

Adapun materi ujian yang harus diikuti oleh seluruh peserta pelatihan meliputi, pamedhar sabda, kapanatacaran, renggeping wicara, budi pekerti, basa tuwin sastra Jawi, ngedi busana kakung lan putri, sekar lan gendhing, padhuwungan dan ngadat tatacara Jawi serta kapermadanen.

Menjadi panatacara dan pamedhar sabda bukan hanya merupakan profesi saja, namun lebih kepada sebuah pengabdian untuk turut serta melestarikan budaya luhur bangsa.

Dan para peserta pelatihan inilah yang nantinya akan menjadi penerus dan sekaligus menjaga melestarikan tradisi budaya kepada generasi berikutnya.

Ketua Permadani Cabang Kec. Mijen, Edi Purnomo memberikan ucapan selamat kepada para peserta pendadaran Pawiyatan Panatacara Tuwin Pamedhar Sabda yang telah lulus dalam ujian, setelah 6 bulan aktif mengikuti pelatihan.

Edipun berharap, hal ini menjadi awal perjalanan dalam merintis menjadi seorang yang dapat memberikan manfaat kepada masyarakat di sekitarnya masing-masing, sesuai dengan sikap dan perilaku keluarga Permadani dengan sesanti Tri Niti Yogya, – Memayu hayuning sasama (berupaya menciptakan suasana damai/tentram lahir batin).- Dados juru ladosing bebrayan ingkang sae (menjadi abdi masyarakat dengan baik).- Sedengah pakaryan tansah ngremenaken tiyang sanes (setiap perilaku/tindakan dapat menyenangkan orang lain).

“Dengan berakhirnya pawiyatan panatacara dan pamedhar sabda angkatan ke-6 ini, harapannya para peserta dapat mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari dalam berbagai acara adat dan upacara penting lainnya di lingkungan masyarakat, serta menjadi teladan dalam melestarikan budaya Jawa,” harap Edi yang juga Ketua Seksi Seni Budaya dan Pemuda, Olahraga di Forum LPMK Kota Semarang.

“Kami berharap, generasi muda tertarik dan ikut melestarikan budaya yang luhur, halus dan sekaligus merupakan benteng dalam memperkuat budaya bangsa yang dalam leluhur Jawa disebutkan, Rum Kuncaraning Bangsa Dumunung Haneng Luhuring Budaya, yang artinya harumnya nama dan tingginya derajat suatu bangsa terletak pada budayanya,” tutup Edi Purnomo mengutip sabda Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewono X.(had/red).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed