Foto : Penampakan rumah Casmidi dan jalan yang masih berupa urugan batu dan karung pasir.(ft.mit).
METROPOS.ID || KAB. PEKALONGAN – Ratusan warga Dukuh Cokrahgandu, Desa Dadirejo, Kec. Tirto, Kab. Pekalongan, Jawa Tengah (Jateng), mengeluhkan belum adanya bantuan sembako bagi warga terdampak banjir yang terjadi pada 20 Januari lalu.
Saat ditemui awak media Senin (3/2/2025) lalu, Casmidi salah satu warga Desa Dadirejo mengaku, belum mendapatkan bantuan apapun, baik dari desa setempat, kecamatan maupun kabupaten.
“Sejak terjadinya banjir karena luapan air sungai pada tanggal 20 Januari kemarin, kami belum mendapatkan bantuan apapun dari pihak manapun. Malahan saya dimintai iuran Rp. 500 ribu oleh Ketua RT setempat, dengan alasan saya yang mengambil tanah tanggul untuk kepentingan lain. Sehingga mengakibatkan tanah tanggul tersebut menjadi datar sehingga mengakibatkan banjir karena luapan debit air yang tinggi,” ucapnya.
Ditambahkan oleh Casmidi, sebelumnya pun dilokasi tersebut sudah tidak ada bangunan atau tanggul.
“Sebenarnya memang sejak dulu disini sudah tidak ada tanggulnya karena digunakan oleh warga untuk jalan menuju sungai,” ungkapnya.
Adapun terkait sumbangan yang ditarik Ketua RT, hal tersebut dibenarkan warga desa yang lain.
“Memang benar kami warga Dukuh Cokrahgandu dimintai sumbangan, adapun nominalnya bervariasi dari Rp 50 ribu sampai Rp 500 ribu per rumah. Dan memang yang paling banyak pak Casmidi, awalnya saya juga sempat emosi dengan Kepala Dusun Cokrah dan Ketua RT karena kami semalaman tidak tidur karena adanya bencana banjir dari luapan air sungai pagi malah dimintai sumbangan untuk perbaikan tanggul,” imbuh salah satu warga lain yang enggan disebutkan namanya.
Dikatakannya, sumbangan yang dipungut oleh Ketua RT dan Kepala Dusun tersebut juga tidak ada musyawarah maupun sosialisasi sebelumnya.
“Dan untuk sumbangan itu tidak ada musyawarah dengan warga, sempat saya bubarkan dan saya di panggil Kadus setempat, dan saya berdebat dengan Kadus. Saya sendiri memerlukan 2 hari untuk membersihkan bekas material tanah, dan memang benar dulu disini digunakan warga untuk menuju ke sungai jadi memang sudah rata,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Rukun Tetangga (RT) setempat, Sumarno saat dikonfirmasi, membenarkan adanya sumbangan tersebut.
“Memang saya dengan Ketua RW setempat bersama dengan Kadus Bu Fitri, kemarin sepakat memintai sumbangan kepada warga, dan memang benar hanya kami selaku Ketua RT dan Ketua RW yang diajak musyawarah karena ini menyangkut kedaruratan dan harus segera di tangani,” terang Marno.
“Di Dusun Cokrahgandu ada sekitar 300 rumah, terbagi menjadi 3 RT. Dan sumbangan kemarin terkumpul sekitar Rp 11 juta rupiah. Uang itu langsung dibelanjakan oleh Ketua RW berupa material serta digunakan untuk biaya perbaikan tanggul darurat ini dan dikerjakan sekitar dua setengah hari,” jelasnya.
“Adapun pekerja yang mengerjakan ada sekitar 10 orang perharinya, jadi kalau dihitung biaya tenaga kerjanya sekitar Rp 2 juta 500 ribu,” jelas Ketua RT.
Ditanya tentang adanya bantuan dari desa sebesar Rp 4 jutaan, Sumarno mengaku belum mengetahui adanya bantuan tersebut.
“Kalau dari desa menyumbang berapa saya belum tahu lebih jelasnya langsung ketemu bu Kadus Fitri saja,” ucapnya.
Ditemui secara terpisah Kepala Dusun Cokrahgandu, Fitri Infatkhul Awalia mengatakan, sumbangan yang ditarik sudah disepakati bersama antara Ketua RT dan Ketua RW.
“Itu memang sudah menjadi kesepakatan kami dengan Ketua RT dan Ketua RW, dan bukan pungutan, melainkan iuran swadaya masyarakat, dikarenakan sebelumnya sudah rapat yang diwakili tiap RT setempat. Dan untuk pembuatan tanggul tersebut belum selesai masih akan berlanjut,” ucap Kadus.
“Adapun dari hasil iuran warga hanya Rp 11 juta dan di bantu dari pihak pemerintah desa Rp 4.250.000. Saya tidak memakai atau mengambil uang sepeserpun dari sumbangan tersebut. Semuanya dikumpulkan di Ketua RW. Dan rencananya dana itu juga akan di gunakan untuk pembersihan selokan dan peninggian jalan,” jelasnya.
Terkait, Casmidi yang dimintai Rp 500 ribu, Kadus Fitri juga membenarkan.
“Memang itu permintaan dari warga, malahan tadinya warga emosi dan meminta pak Casmidi karena merusak tanggul dan warga meminta dia yang bertanggung jawab untuk membuat tanggul dengan biaya dia pribadi, tapi sudah saya mediasi dan akhirnya ada kesepakatan dia menyumbang Rp 500 ribu,” jelasnya.(mit/red).









Komentar