Anggota Polres Tegal saat cek lokasi bencana (ft her)
METROPOS.ID || TEGAL – Aparat kepolisian bersama unsur terkait terus memperkuat penanganan bencana tanah bergerak yang terjadi di RW 09 Desa Kajen. Hingga Senin pagi (16/2/2026), personel gabungan dari Polres Tegal masih bersiaga di lokasi guna memastikan keselamatan warga sekaligus menjaga situasi tetap kondusif.
Hasil pendataan terbaru mencatat sebanyak 54 unit rumah terdampak pergerakan tanah yang mulai terjadi sejak 10 Februari 2026. Dari jumlah tersebut, 21 rumah mengalami kerusakan sedang hingga berat, sementara 33 unit lainnya mengalami kerusakan ringan.
Dampak bencana juga merembet ke fasilitas ibadah dan pendidikan. Mushola Baitul Mutaqin dilaporkan rusak berat, sedangkan Madrasah Nurul Hidayah mengalami kerusakan tingkat sedang.
Selain itu, retakan tanah terlihat di badan jalan desa tepat di depan mushola. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas pergeseran tanah masih berlangsung, meskipun dengan intensitas yang relatif rendah. Aparat bersama instansi teknis terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi kemungkinan dampak lanjutan.
Akibat bencana ini, sebanyak 27 kepala keluarga atau 83 jiwa terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman, baik di posko pengungsian maupun di rumah kerabat terdekat. Dari total pengungsi tersebut, tercatat terdapat balita, anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lansia, yang seluruhnya menjadi perhatian utama dalam pelayanan kemanusiaan.
Kapolres Tegal AKBP Bayu Prasatyo menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi fokus utama dalam setiap tahapan penanganan bencana.
Ia menekankan pentingnya kehadiran aparat tidak hanya dalam aspek pengamanan, tetapi juga pendampingan sosial bagi warga terdampak.
“Kami pastikan seluruh warga berada di tempat yang aman. Personel di lapangan tidak hanya menjaga situasi, tetapi juga membantu evakuasi, penyaluran bantuan, hingga penyediaan fasilitas darurat agar masyarakat merasa terlindungi,” ujarnya.
Di lokasi kejadian, personel Regu I Siaga Bhayangkara bersama anggota Polsek Lebaksiu aktif melakukan patroli, sambang warga, serta pengamanan posko pengungsian. Tim Samapta turut mendirikan tenda darurat, termasuk tenda berukuran 3×6 meter sebagai mushola sementara dan tenda 6×12 meter untuk kebutuhan pengungsian. Pallet dasar tenda juga disiapkan guna meningkatkan kenyamanan dan kelayakan hunian sementara.
Sementara itu, arus bantuan logistik terus berdatangan dari berbagai pihak. Persediaan di posko mencakup bahan pangan, air minum, perlengkapan sandang, obat-obatan, hingga dana donasi yang dikelola secara transparan sesuai kesepakatan bersama warga.
Sebagai langkah mitigasi tambahan, aliran listrik di rumah-rumah dengan kerusakan berat telah di putus oleh petugas PLN guna mencegah risiko korsleting dan bahaya lanjutan. Koordinasi lintas sektor antara aparat keamanan, pemerintah desa, relawan, dan masyarakat terus di perkuat agar penanganan berjalan efektif dan terpadu.
Di tengah keterbatasan dan tenda-tenda darurat, harapan warga untuk kembali hidup dengan rasa aman tetap menyala. Aparat hadir bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi juga memastikan setiap langkah penanganan membawa ketenangan dan kepastian bagi masyarakat terdampak.
Polres Tegal mengimbau warga untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi pergerakan tanah susulan serta segera melapor apabila menemukan retakan baru atau tanda-tanda bahaya di sekitar permukiman. (her/red).











Komentar