Kepala Dinkes Kab. Grobogan dr Jatmiko.(ft doc).
METROPOS.ID GROBOGAN – Setidaknya tercatat di Dinkes (Dinas Kesehatan) Kab. Grobogan, Jawa Tengah sebanyak 692 warga meninggal dunia akibat HIV/AIDS sepanjang periode tahun 2002 hingga Juni 2026. Dari total kasus kematian tersebut, 45 di antaranya merupakan ibu hamil. Hal ini disampaikan Kepala Dinkes Kab. Grobogan dr. Jatmiko.
Ia mengatakan akumulasi data tersebut menjadi acuan penting bagi Pemda dalam menentukan arah kebijakan serta tindakan pencegahan penyakit menular ini.
“Data kumulatif tersebut menjadi tolak ukur untuk menindaklanjuti pencegahan penyakit menular ini,” ujar dr. Jatmiko, Rabu (22/7/2026).
Total kasus berdasarkan data Dinkes Kab. Grobogan yang terkonfirmasi HIV dari tahun 2002 hingga 2026 mencapai 2.238 orang. Saat ini, sebanyak 1.411 penderita (ODHA) masih hidup dan rutin menjalani pengobatan, baik secara mandiri maupun melalui pendampingan Dinsos (Dinas Sosial) dan Dinkes.
Menurutnya bahwa HIV (Human Immunodeficiency Virus) atau yang secara medis kerap disebut Penyakit B20 / Retrovirus ini memiliki pola penularan yang cukup khas di daerahnya. Banyaknya warga Grobogan yang merantau ke luar kota menjadi salah satu faktor risiko utama.
“Penyakit menular ini risikonya meningkat karena tak sedikit warga Grobogan yang merantau ke luar kota. Ada kecenderungan terjangkit virus setelah pulang kerja, dan jika tidak disadari, virus tersebut berpotensi menular ke pasangannya di rumah,” katanya.
Guna meminimalisasi potensi penularan baru, Dinkes Kab. Grobogan memperketat langkah pencegahan melalui sosialisasi dan pemeriksaan kesehatan (screening) massal. Target utamanya difokuskan pada 2 kelompok rentan sebanyak 16.575 ibu hamil dan 16.800 Calon Pengantin (Catin).
Kedua kelompok sasaran ini diberikan edukasi mendalam terkait bahaya HIV/AIDS, pengenalan gejala awal, serta pemeriksaan tes kesehatan wajib.
“Sepanjang tahun 2026 ini, Dinkes Kab. Grobogan sudah memeriksa belasan ribu ibu hamil dan catin, baik sebagai sasaran tes kesehatan pencegahan HIV maupun edukasi bahaya virus ini,” jelasnya.
Di sisi lain, stigma dan dampak HIV/AIDS meninggalkan duka mendalam bagi keluarga penderita. Yht (60), salah seorang warga Grobogan, membagikan kisah pilunya setelah anak keduanya meninggal dunia di usia 30 tahun akibat terinfeksi HIV.
“Anak saya itu pandai menyimpan rahasia. Menurut pengakuannya, dia tidak lagi melakukan hubungan intim setelah mengetahui terjangkit virus mematikan itu,” tutur Yht.
Meski berat menerima kenyataan tersebut, Yht kini mengaku sudah ikhlas melepas kepergian buah hatinya.
“Kini dia sudah pergi dan damai di surga,” tutupnya.(bid/red).








Komentar