Foto : Suasana anak-anak berlatih mengenal wayang, dalam peringatan Hari Anak Nasional, di Pedukuhan Karangasem, Imogiri, Bantul.
METROPOS.ID || BANTUL – Suasana penuh semangat terlihat di ruang pintar KB Karangasem, Padukuhan Karangasem, Wukirsari, Kec. Imogiri, Kab. Bantul, Yogyakarta. Puluhan anak mulai dari jenjang Paud hingga sekolah dasar mengikuti pelatihan mewarnai wayang, dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional.
Dalam kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat (24/7/2026) pagi itu, anak-anak diajarkan mewarnai berbagai tokoh pewayangan menggunakan kuas dan cat. Meski bukan ahli, namun tangan mereka nampak cekatan menggoreskan tiap warna diatas karakter wayang dengan teliti.
Selain belajar teknik mewarnai, anak-anak juga memahami budaya sejak dini diperkenalkan dengan nama-nama tokoh wayang, karakter masing-masing tokoh, serta nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kisah pewayangan.
Agus Trianto, selaku penyelenggara kegiatan menuturkan, kegiatan ini menjadi salah satu upaya mengenalkan budaya kepada generasi muda dengan metode yang menyenangkan.
“Melalui praktik secara langsung, anak-anak tidak hanya mengembangkan kreativitas dan kemampuan seni, tetapi juga belajar memahami filosofi budaya jawa sebagai bagian dari identitas bangsa,” tutur pria yang merupakan kepala PNM Yogyakarta tersebut.
Dirinya menambahkan, dtengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, penanaman pendidikan karakter melalui budaya dinilai penting agar warisan budaya tetap lestari, dan anak tidak kehilangan jati diri sebagai generasi yang berkarakter.
“Anak-anak ini harus terus kita bekali dengan pendidikan karakter,dan mengenalkan warisan budaya bangsa, agar mereka tidak terjebak dalam dunia teknologi yang saat ini terus berkembang pesat,” imbuhnya.
Langkah strategis dari salah satu badan usaha finansial non perbankan tersebut, disambut baik oleh kepala sekolah SD Negeri Pucung.
Menurutnya, pembelajaran budaya melalui praktik langsung jauh lebih mudah diterima anak-anak dibandingkan hanya melalui teori di dalam kelas.
“Kami sangat mengapresisasi kegiatan ini. Karena selain melatih kreativitas, anak-anak juga belajar berkonsentrasi, lebih teliti, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap wayang, yang merupakan warisan budaya bangsa,” ujar R. Andara Hasibuan, selaku kepala SD Negeri Pucung.
Sementara itu, didukuh Karangasem, Hadi Prabowo mengakui, langkah kecil kegiatan pelatihan mewarnai wayang usia dini, sangat dibutuhkan untuk menjadi bagian dari upaya regenerasi pengrajin wayang, dipadukuhan Karangasem yang kian berkurang jumlahnya.
“Dari sekitar seribu pengrajin yang pernah ada, kini hanya tersisa sekitar 250 pengrajin. Melalui kegiatan ini diharapkan semakin banyak generasi muda yang mengenal, mencintai, dan kelak meneruskan seni kerajinan wayang,” tandas Kepala Dukuh Karangasem.(kmit/red).










Komentar