METROPOS.id, Boyolali – Pemkab Boyolali mendorong agar desa- desa segera membentuk Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), mendapat respon positif. Salah satunya adalah Desa Madu, Kecamatan Mojosongo.
Bumdes Madu Tresno milik desa setempat sudah dibentuk sejak November 2017 lalu. Adapun usaha meliputi, kegiatan ekonomi berupa toko sarana produksi pertanian (saprodi) dan pengelolaan kebun buah.
“Juga digagas untuk mengelola gedung pertemuan yang saat ini masih dalam tahap pembangunan,” ujar Sekdes Madu, Fajar Sidik, Senin (23/12/2019).
Dijelaskannya, terkait proyek gedung pertemuan, akan dibangun secara bertahap sejak tahun 2017 lalu. Saat ini sudah masuk tahun ketiga berupa pemasangan tembok dan pemlesteran. Proyek berukuran 30 X 24 meter ini dibangun dengan dana APBDes.
“Rata- rata setiap tahun dianggarkan sebesar Rp 250 juta,” jelasnya.
Gedung tersebut awalnya dibangun dengan maksud sebagai tempat penampungan korban erupsi Gunung Merapi. Mengingat Desa Madu sudah menjalin kerjasama dengan Desa Sangup, Kecamatan Tamansari sebagai lokasi pengungsian jika terjadi bencana erupsi Merapi.
“Sebagai sister village, maka Desa Madu harus menyiapkan lokasi pengungsian yang memadai,” terangnya.
Namun demikian, gedung tak hanya akan difungsikan sebagai tempat pengungsian saja. Gedung harus diberdayakan untuk menambah pendapatan desa. Sehingga gedung juga akan diproyeksikan sebagai gedung olahraga dan gedung pertemuan.
Artinya, gedung bisa disewa untuk kegiatan olahraga seperti bulutangkis yang marak hingga di desa- desa. Gedung juga bisa disewa warga untuk menggelar hajat atau pesta pernikahan. Mengingat sebagian warga sudah mulai kesulitan memilih tempat pesta.
“Nanti, gedung bisa disewa warga melalui Bumdes. Hasilnya, masuk ke kas desa untuk mendongkrak PAD,” pungkasnya. (Mul/Red).












Komentar