METROPOS.ID, Sukoharjo – Berbagai upaya meningkatkan efesiensi energi terus dilakukan pemerintah dengan usaha konservasi energi melalui diversifikasi energi yang mendukung energi baru terbarukan.
Sejalan dengan upaya tersebut sejumlah gagasan dan penelitian disertai berbagai uji coba laboratorium dilakukan dengan tujuan menghasilkan energi baru terbarukan untuk mengantisipasi krisis sumber energi tak terbarukan yang berasal dari fosil.
Seperti yang dilakukan Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Ir. Sarjito, M.T., Ph.D., IPM, berkat gagasan dan penelitiannya di bidang tehnik ilmu mesin, ia akan dikukuhkan menjadi guru besar ke 30 UMS pada, Sabtu (8/2/2020) mendatang.
Rencana pengukuhan ini disampaikan langsung Sarjito kepada awak media, Rabu (5/2/2020). Dalam pidato pengukuhannya nanti ia akan menyampaikan tentang Peran Komputasi dan Simulasi Numerik untuk Peningkatan Efisiensi dalam Pemanfaatan Energi.
“Berangkat dari isu dunia, bahwa sekarang ini kita masih tergantung dengan bahan bakar fosil yang tak terbarukan. Dan, walaupun bisa diperbarui, tetapi membutuhkan waktu jutaan tahun dan mahal,” papar Sarjito.
Beberapa pakar menyebut bahwa bahan bakar yang tak terbarukan ini dalam kurun waktu 21 tahun kedepan sumber energi berbahan fosil akan habis. Namun ada juga beberapa lainnya mengatakan, 45 tahun yang akan datang, sumber energi tersebut akan habis.
“Oleh karenanya perlu dilakukan efisiensi dan menggali energi – energi alternatif, salah satunya dengan upaya melakukan efisiensi energi berbasis sistem komputasi dan simulasi numerik,” terang Sarjito yang memiliki kompetensi di bidang energi.
Mengingat kebiasaan penelitian sebelum mendapat hasil harus melakukan eksperimen didalam lab, maka dengan temuan Sarjito, kebiasaan itu dapat dilakukan menggunakan tehnik komputasi dan simulasi numeric. Tehnik ini sudah dikenal masuk di semua sektor kehidupan.
“Sebelum adanya simulasi numeric, rekayasa teknologi banyak dilakukan secara trial and error sehingga selain membuang banyak material juga mahal, karena harus membuat prototype dulu sebagai bahan uji coba. Dengan tehnik komputasi, hal itu bisa dipangkas,” tandasnya. (Naura/Red).











Komentar