METROPOS.ID, Sukoharjo – Setelah mendirikan masjid, untuk kali pertama Yayasan Kasultanan Karaton Padjang (YKKP) pimpinan Suradi yang bergelar Sultan Prabu Hadiwijaya Kalifatullah IV menggelar Haul Joko Tingkir, Raja Karaton Padjang bergelar Sultan Hadiwijoyo yang disebut wafat 438 tahun silam.
“Joko Tingkir adalah raja pertama Padjang yang sudah beragama islam, keturunan Kanjeng Sepuh Kebo Kenonggo dari Pengging,” kata Andi Budi Sulistijanto Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Sumber Daya (Lakpesdam) dari PBNU yang diberi kuasa sebagai juru bicara Suradi dalam penyelenggaraan haul, Minggu (9/2/2020).
Dalam acara ini, ratusan santri dari Ponpes Ad – Dhuha, Gentan, Baki diajak serta untuk menggemakan sholawat di Masjid Agung Suro Jiwan yang berada didalam komplek YKKP di Dk. Sonojiwan, Ds. Makamhaji, Kec. Kartasura.
“Haul Joko Tingkir merupakan bagian dari melestarikan budaya leluhur tentang bagaimana tata cara ritual – ritual dalam Karaton Padjang yang tidak lepas dari budaya – budaya kerajaan Islam jaman dulu, terutama yang berbasis di Majapahit. Dan, Ini akan menjadi kegiatan tahunan,” terangnya.
Dikalangan jamaah Nahdliyin, Haul bermakna untuk memperingati meninggalnya tokoh – tokoh Islam atau ulama yang telah menjadi bagian dari keluarga besar setempat. Haul yang digelar sekali dalam satu tahun dapat dilaksanakan di manapun secara terpisah. Tujuannya untuk memberi penghormatan dan rasa syukur.
“Makin banyak yang memberi penghormatan dengan menggelar haul, maka ditinjau dari visi Islam dan dari sisi budaya, hal itu akan semakin bagus. Haul menjadi suatu kekuatan untuk menjaga ukuwah atau perekat tali silaturahmi sesama umat Islam,” sebutnya.
Haul Joko Tingkir sengaja digelar sebagai bagian dari menyebarkan, bagaimana nama besar pendiri Kraton Padjang ini makin dikenal kembali oleh masyarakat luas. Ada sisi lain yang memang menjadi kerinduan kepada raja – raja atau tokoh yang dulu memeluk agama Islam dimunculkan kembali. Tujuannya agar masyarakat tidak lupa sejarah.
Keberadaan YKKP menurut Andi, sama sekali berbeda dengan Keraton Agung Sejagat yang baru saja membuat heboh dengan aktivitasnya dan berujung pada penangkapan para tokoh – tokoh pendiri yang terlibat didalamnya. Mereka menjadi tersangka penipuan karena memungut iuran kepada para pengikutnya yang menginginkan mendapat gelar tertentu.
“Kalau Padjang ini jelas, dari sejarahnya memang ada kerajaannya. Semua juga sudah tahu, bahwa disini bagian dari kerajaan Padjang, yang juga diabadikan menjadi nama kelurahan berbatasan dengan petilasan ini. Kalau ini bisa dimunculkan maka masyarakat akan mereview kembali keberadaan Karaton Padjang,” tandasnya.
Sementara Bupati Sukoharjo, Wardoyo Wijaya yang hadir diwakili Asisten III Sekda Sukoharjo, Eko Aji Arianto menyambut baik atas penyelenggaraan haul Joko Tingkir untuk pertama kalinya di YKKP yang berlokasi di Sukoharjo.
“Semoga haul ini dapat membawa barokah bagi kita semua. Selain itu, agar keamanan tetap terjaga, kami berharap masyarakat bijak mensikapi terkait fenomena beberapa waktu lalu yaitu, munculnya pengakuan adanya keraton atau kerajaan baru. Kita jaga bersama iklim kondusif di Sukoharjo,” tegas Eko.
Selepas melaksanakan ibadah Dhuhur, rombongan peserta haul kemudian melakukan perjalanan napak tilas ziarah ke makam Joko Tingkir di Ds. Buton, Kec. Plupuh, Kab. Sragen dengan mengambil awal perjalanan dari kawasan YKKP yang bersebelahan dengan petilasan Joko Tingkir. Mereka akan menggelar do’a dan sholawat bersama – sama. (Naura/Red).











Komentar