oleh

17 tahun lamanya Febri warga Krajan – Kalisombo, tergolek kaku di tempat tidur

METROPOS.ID, Salatiga -Febri Sapto Muatno (36) yang akrab di panggil Febri warga Jalan Pramuka, Krajan, RT 05/08 Kalisombo, Salatiga ini harus menjalani kehidupan sehari – harinya di tempat tidur, pasal laki – laki paruh baya tersebut menderita tubuh kaku layaknya kayu.

Ia nyaris tidak bisa bergerak, hanya tangan dan kelopak mata saja yang bisa di gerakkan. Penyakit langka yang di derita Febri ini sudah berlangsung selama 17 tahun lamanya, sejak tahun  2003 hingga sekarang. Adapun komunikasinya hanya mengunakan HP dengan cara ditulis oleh lawan bicaranya. Sekarang ini ia hidup bersama bapaknya yang bekerja sebagai buruh Pabrik tahu di kampungnya, dan bapaknya tersebut juga seorang tuna rungu sehingga susah untuk di ajak berkomunikasi.

Untuk mencukupi kebutuhan nya sehari – hari Febri mengandalkan belaskasihan dari bantuan dan tetangga kanan – kiri, bahkan pernah mendapat bantuan sembako dari salah satu komunitas sosial di Salatiga, itu pun terakhir sudah 1 tahun yang lalu. Sementara perhatian dari Pemerintah setempat juga belum ada.

Untuk pengobatan Febri sendiri, pihak Keluarganya sudah berusaha berobat semaksimal mungkin, namun karena faktor biaya, apalagi keluarga Febri secara terbatas.

Dengan kondisi seperti itu, Febri sudah tidak bisa kemana- mana hanya terbaring di kamar kecil dengan ukuran 2.5 x 2.5 untuk menghabiskan waktu sehari harinya. Dia sangat mandiri dan mempunyai semangat sangat tinggi. Febri bisa melakukan buang air besar dan buang air kecil sendiri tanpa bantuan orang lain. Walaupun demikian tempat Febri kelihatan bersih karena dia tidak mau ada najis di tempatnya agar dia tetap bisa menjalankan ibadah sholat.

Sementara itu mendengar adanya kabar tersebut. Komunitas sosial Sejiwa yang di koordinasi oleh Fanny Arsanty langsung terjun ke lokasi dan mengecek kebenaran kabar tersebut. Alhasil  ternyata benar. Setelah mengecek ke lokasi dan dinyatakan benar, Komunitas Sosial Sejiwa memberikan bantuan berupa sembako untuk Febri dan keluarga.

“Kami dari komunitas Sejiwa berprinsip kedatangan kami bukan yang pertama kali dan terakhir, kami akan datang lagi mengandeng komunitas lain untuk membantu kesembuhan Febri, agar Ferbi bisa segera ditangani untuk kesembuhanya agar Febri normal kembali layaknya manusia normal,” ungkap Fanny.

Kami juga berharap semoga Pemerintah Daerah juga cepat tanggap dan terjun langsung memberikan bantuan untuk kesembuhan Febri. (Nang/Red).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed