METROPOS.ID, SUKOHARJO – Bawaslu Sukoharjo melakukan rapid test terhadap 218 orang, terdiri staf dan anggota dari tingkat Kabupaten hingga tingkat desa. Hasilnya, semua dinyatakan non reaktif.
Rapid test massal yang berlangsung di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) itu, oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo, Yunia Wahdiyati, dinyatakan hasilnya semua non reaktif.
“Allkhamdulillah, hasilnya semua non reaktif,” terang Yunia saat dikonfirmasi awak media, Kamis (6/8/2020).
Rapid test yang diikuti oleh sebanyak 218 orang ini, dilakukan bertahap selama 2 hari berturut – turut, Rabu – Kamis (5-6/8/2020).
Terpisah, Komisoner Bawaslu Sukoharjo Divisi Organisasi dan SDM, Uswatun Mufidah menjelaskan, rincian peserta rapid test terdiri, 5 komisioner Bawaslu, 10 staf sekretariat Bawaslu, 36 Panwascam, dan 167 pengawas desa.
“Dengan rapid test ini, diharapkan tugas pengawasan Pilkada bisa lebih maksimal. Apalagi, rapid test menjadi salah satu syarat bagi penyelenggara Pilkada termasuk Bawaslu karena Pilkada digelar dalam situasi pandemi COVID -19,” terangnya.
Sementara Ketua Bawaslu Sukoharjo Bambang Muryanto menambahkan, sesuai arahan Bawaslu RI, rapid test bagi jajaran pengawas Pilkada dilakukan 2 kali.
“Sesuai surat Ketua Bawaslu RI, rapid test minimal 2 kali dengan memperhatikan kemampuan keuangan,” terangnya.
Menyinggung anggaran, Bambang mengatakan, untuk rapid test tahap pertama ini dibiayai dari dana APBN dengan besaran masing – masing per orang Rp 150 ribu. Sedangkan yang berikutnya akan di danai APBD Sukoharjo.
“Untuk yang sekarang targetnya 218 orang, dan yang kedua nanti sebelum tahapan pemungutan dan penghitungan suara, jumlahnya lebih banyak lagi. Ada 2.000 lebih yang akan dirapid test,” pungkasnya. (Naura/Red).












Komentar