Ustad Suhari saat memberikan khutbah Idul Adha 1444 H di Masjid Muhammad Rifai, Sambiroto, Tembalang, Semarang (Foto wb)
Metropos.id, Semarang – Masjid Muhammad Rifa’i yang berada di Jalan Sambiroto Raya, Tembalang, Semarang melaksanakan Sholat Idul Adha 1444 Hijriyah/2023 Masehi, Kamis (29/6/2023) dipimpin Imam dan Khatib KH. Muhammad Suhari yang juga sebagai Ketua Takmir di Masjid Muhammad Rifa’i.
Sholat Idul Adha dihadiri warga sekitar dan santri Panti Asuhan Arrodiyah yang berada satu lokasi dengan Masjid Muhammad Rifa’i.
Dalam khutbahnya, KH. Muhammad Suhari mengajak dan mengingatkan jamaah untuk senantiasa bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah dikaruniakan kepada umatnya. Karena dengan bersyukur akan diberikan keyakinan dan keimanan yang lebih kuat sehingga dapat meraih surga Allah SWT.
Dalam AlQuran surah Al-Kautsar Allah telah memberikan penjelasan yang tegas bahwa engkau telah Aku karuniakan nikmat, maka berkurbanlah.
Kurban mempunyai makna untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan orang-orang yang berkurban, hati dan jiwanya selalu dekat dengan Allah.
Meneladani Nabi Ibrahim Alaihisalam dengan sifat dermawannya kepada saudaranya sesama manusia, maka sebagai umat muslim dianjurkan untuk saling berderma dan saling memberi agar senantiasa diberikan kekuatan dan keimanan kepada Allah.
“Ciri ahli surga dan kekasih Allah bukan manusia yang bakhil dan bukan manusia yang pelit. Tetapi manusia yang selalu memberikan sesuatu kepada sesama dan orang fakir miskin melalui kurban,” tutur Ustadz Suhari.
Nabi Ibrahim adalah contoh nyata dalam membawa misi kunci pemikiran kecintaan kepada Allah SWT. Dengan didasari kecintaan kepada Allah, Nabi Ibrahim membuktikan atas kecintaannya kepada Allah dengan perintah untuk menyembelih Ismail, anaknya. Nabi Ibrahim dengan segala kekayaan dan kedermawananya membuktikan cintanya kepada Allah melebihi apa yang dimilikinya di dunia.
“Kalau kita ingin mendapatkan keselamatan di dunia dan akherat maka ikutilah kederwananan Nabiyullah Ibrahim Alaihisalam. Dunia ini hanya sementara, harta yang kita miliki akan habis pada saatnya, anak yang kita banggakan akan ditinggalkan. Akan tetapi amal sholeh yang kita bangun yang akan kita bawa sampai akherat nanti,” tuturnya.
Pada khutbahnya KH. Muhammad Suhari mengingatkan kepada jamaah, dalam suasana yang penuh keprihatinan disaat menjelang pesta demokrasi untuk tidak mudah dipecah belah hanya karena persoalan beda pilihan dalam memilih pemimpin bangsa.
“Jadilah umat Islam yang dewasa, jangan mudah terpecah belah hanya karena beda pilihan seorang pemimpin. Kita tidak akan sama menurut mereka, tetapi kita wajib mentaati mereka. Akan tetapi jangan sampai kita terpecah belah hanya karena beda pandangan dan beda pilihan politik,” “Jangan saling membenci, jangan saling memfitnah yang akan menimbulkan kebencian dan perpecahan bangsa,” tandasnya.
“Didalam rangka meningkatkan keimanan kita, maka kita harus menghindari perpecahan-perpecahan dibangsa ini. Bangsa ini adalah bangsa yang besar, bangsa yang makmur gemah ripah lohjinawi, tetapi kita masih dalam kemiskinan. Karena apa? Karena umat Islam selalu hanya meminta kepada pemimpin, agar kita makmur, agar kita sukses, agar kita kaya. Padahal sudah dijelaskan dalam AlQuran, Allah tidak akan merubah suatu kaum apabila kaum itu sendiri tak mau merubahnya,”
“Itu artinya kita sering menggantungkan sukses kepada orang lain, padahal Islam mengajarkan kalau kita ingin sukses rubahlah cara pandang berpikir kita, rubah etos kerja kita, rubah dengan melakukan hal-hal yang baik dengan kejujuran, keihlasan yang menjadi pondasi besar kita,” tandas Suhari.
Menyikapi hal tersebut, ustad Suhari mengingatkan peran orang tua dalam mendidik anak untuk menjadi sukses sehingga dapat membantu orang tua.
Namun ironisnya, anak-anak muda saat ini terkungkung dengan segala fasilitas yang didapat dari canggihnya teknologi permainan game dalam gadget.
“Kalau anak-anak muda ini hanya selalu bermain game, apakah ada harapan kedepan untuk menjadi orang kaya dan sukses? Sesuatu yang tidak mungkin. Karena anak yang tidak mempunyai pendidikan yang cukup, mereka hanya asyik bermain game siang dan malam, dia menghabiskan waktunya tidak untuk kepentingan masa depan. Kita sangat khawatir dan ketakutan masa depan anak-anak ini karena kecerdasannya lemah, kepintarannya berkurang karena hanya suka bermain. Salah satu penyebab bangsa akan hancur apabila generasi mudanya tidak punya pengetahuan, tidak punya berpikir visioner,” imbuhnya.
“Mari kita didik anak-anak kita agar tidak hancur, karena apabila anak kita hancur, orang tualah yang pertama rugi. Karena Allah menitipkan amal kita kepada anak-anak kita. Dari anak-anak kitalah kita mendapat pahala. Maka beruntunglah mempunyai putra putri yang shaleh dan shalehah yang akan membawa manfaat pada orang tuanya walaupun orang tua sudah dipanggil Allah SWT,” tuturnya.
Diakhir khutbah, ustad Suhari mendoakan kepada orang-orang yang berkurban diberikan kemurahan rejeki serta diberikan tambahan iman dan kekuatannya untuk lebih mencintai Allah SWT. (wb/red)











Komentar