oleh

Tuntutan Era Milenial, Dosen dan Staf Univet Bantara Wajib Operasikan Spada

-Sukoharjo-114 views

METROPOS.ID, Sukoharjo – Perkembangan teknologi dan tren anak – anak muda atau kaum milenial yang hampir sepenuhnya tak lepas dari internet telah membawa pengaruh besar dalam dunia pendidikan. Khususnya di perguruan tinggi.

Konsekuensi atas kemajuan teknologi tersebut telah membawa sebuah babak baru dalam sistem pembelajaran di hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia dengan mulai menerapkan sistem perkuliahan jarak menggunakan aplikasi Daring (dalam jaringan).

Hal itu juga dilakukan oleh Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo dengan menggelar pelatihan dan pendampingan Sistem Pembelajaran Daring (Spada) kepada seluruh dosen dan staf, diwakili masing – masing 2 orang dari tiap prodi.

“Ini sesuai selera anak didik kita, tetapi sebagian pendidik belum tahu atau bahkan persepsinya berbeda. Maka disamakan persepsinya melalui cara ini oleh tim yang telah membuat aplikasi dengan cukup baik,” terang Rektor Univet Bantara, Ali Musyid WM usai membuka kegiatan, Senin (9/3/2020).

Dengan ketrampilan menggunakan Spada, nantinya para dosen ketika dituntut harus melakukan pembelajaran jarak jauh maka akan mudah untuk menyesuaikan dengan kegandrungan anak – anak muda terhadap IT dalam mencari sumber ilmu dan informasi.

“Kemenristekdikti memang tidak mewajibkan perguruan tinggi menerapkan Spada, tetapi itu muncul dalam skoring akreditasi. Artinya, kalau kami tidak mengambil peran (dalam penggunaan Spada), ya kami harus rela untuk tidak memperoleh skor. Tentu ini sangat disayangkan,” tutur Rektor.

Menurut Rektor pelatihan dan pendampingan Spada bukan semata – mata untuk mengejar skor akreditasi, tapi tujuan utamanya adalah menselaraskan dengan perkembangan jaman, atau menyesuaikan dengan selera pasar pendidikan tinggi.

Sementara, Ketua Panitia, Jatmiko Hidayat menambahkan, pelatihan dan pendampingan Spada untuk seluruh dosen Univet Bantara merupakan awal perubahan menjadikan kelembagaan dalam setiap Prodi agar semakin maju.

“Sebenarnya ini sudah digagas sejak lama, sekira dua tahun lalu. Tujuannya untuk memunculkan blended learning, yakni sebuah kombinasi pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran online, tapi lebih daripada itu sebagai elemen dari interaksi sosial,” tandasnya. (Naura/Red).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed