oleh

Kembul Bujono ala Warga Cepogo

-Wisata-49 views

Metropos.id,Boyolali – Tradisi Sadranan atau tradisi membersihkan makam leluhur, sekaligus ziarah kubur dengan prosesi penyampaian doa dan kenduri. Tradisi ini sudah turun temurun sejak nenek moyang, sampai saat ini masih melekat bagi masyarakat lereng Merapi – Merbabu.

Acara Sadranan ialah tradisi rutin digelar warga Kecamatan Cepogo, diadakan setiap bulan Ruwah (dalam penanggalan Jawa) sebelum bulan Ramadhan tiba. Sadranan ini diikuti 15 desa di Kecamatan Cepogo, Setiap desa membawa 21 tenong dan tiga tumpeng seger. Selain itu juga ada 7 gunungan hasil bumi dan 7 gunungan makanan khas Cepogo.

Wakil Bupati Boyolali, M. Said Hidayat yang hadir dalam acara tersebut mengapresiasi pelaksanaan Grebek Sadranan yang baru pertama kali digelar ini. Pihaknya berharap, acara ini bisa menjadi agenda rutin tahunan serta bisa menumbuhkembangkan kepariwisataan dan budaya.

“Semoga ini menjadi suatu dorongan, juga utamanya kecamatan yang lain di Boyolali mampu untuk turut serta menggali potensi budaya lokal masing-masing, sehingga nantinya dapat menumbuhkan nilai-nilai budaya tradisi yang ada,” harapnya.

Sementara itu Camat Cepogo, Insan Adi Asmono mengatakan Sadranan itu sudah menjadi agenda rutin turun-temurun di Cepogo, kami dari Pemerintah Kecamatan berusaha mengemas menjadi festival yang akan menjadi budaya tahunan di Kecamatan Cepogo,” terangnya, Minggu (14/4/2019) .

Dia menjelaskan, Grebek Sadranan ini sebagai pembuka tradisi sadranan di Kecamatan Cepogo, yang akan dilaksanakan tiap desa secara bergantian. Maka, dalam kegiatan tersebut juga dibacakan jadwal sadranan masing-masing desa yang akan dimulai 18 hingga 30 April 2019.

Acara Grebek Sadranan dimulai dengan kirab tenong berisi berbagai makanan khas Cepogo itu, tumpeng seger dan gunungan hasil bumi dan makanan khas. Gerebek Sadranan ini diikuti 15 desa di Kecamatan Cepogo. Setiap desa membawa 21 tenong dan tiga tumpeng seger. Selain itu juga ada 7 gunungan hasil bumi dan 7 gunungan makanan khas Cepogo.

“Jumlah tenong 315, kemudian 7 gunungan hasil bumi dan 7 gunungan makanan khas Cepogo. Disamping itu masing-masing desa juga membawa tiga tumpeng seger,” jelasnya.

Pawai tenong serta gunungan dari dua arah dan bertemu di depan kantor Kecamatan Cepogo. Barisan paling depan yakni prajurit bregodo keraton Surakarta, kemudian diikuti tenong dan gunungan serta tumpeng.

Sesampainya di kantor Kecamatan Cepogo, 315 tenong itu diletakkan di pinggir jalan. Sedangkan gunungan dibawa masuk ke halaman kantor untuk acara seremonial. Setelah pembacaan doa, gunungan dibawa keluar ke jalan untuk diperebutkan kepada warga. Tenong pun dibuka dan masyarakat pengunjung bisa ikut makan bareng atau istilah jawanya Kembul Bujono.(Mul/Red).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed