oleh

Warga Simo – Boyolali terkonfirmasi positif COVID 19

METROPOS.ID, BOYOLALI – Satu orang Boyolali terkonfirmasi positif Corona, pria berinisial BK warga Simo. Hal ini berdasarkan riwayat perjalanan dari Surabaya dan ketika tiba di rumahnya pada Jumat (3/4/2020) dalam kondisi sakit. Sehingga dipastikan pasien tersebut terjangkit COVOD -19 karena kasus impor dan bukan transmisi lokal.

Hal tersebut disampaikan Sekda Boyolali, Masruri dalam temu pers bersama kalangan media di Posko Terpadu Penanganan COVID -19 di area kantor BPBD Boyolali, Minggu (19/4/2020) pagi.

“Benar ada salah satu pasien di Boyolali yang berinsial BK dinyatakan terkonfirmasi COVID -19 sesuai hasil pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction) tanggal 18 April 2020 yang dilakukan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Yogyakarta. Melihat latar belakang tersebut bahwa yang bersangkutan sudah tertular sebelum masuk Boyolali, sehingga merupakan kasus impor atau bukan asli dari Boyolali tapi dari luar masuk Boyolali,” ungkapnya.

Dari penjelasan dokter spesialis paru-paru Rumah Sakit Umum Daerah Pandan Arang (RSUDPA), Megantara yang juga hadir, menjelaskan bahwa pasien tersebut masuk di RSUPA Boyolali setelah mendapat rujukan dari fasilitas kesehatan lain pada Sabtu (4/4/2020) lalu dan sampai saat ini masih dalam isolasi dan menjalani perawatan.

“Sebelum dinyatakan positif, BK dinyatakan sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP), saat ini kondisinya semakin membaik setelah dilakukan perawatan secara intensif dan diambil sampel untuk tes swab pada saat kondisinya memburuk pada Kamis (9/4/2020) dengan kondisi sesak nafas, demam dan diare,” terangnya.

Kemudian, lanjutnya pasien tersebut sejak (12/4/2020) kondisi semakin stabil dengan kondisi tidak demam dan diare berkurang.

“Sekarang kondisi membaik semoga tidak ada infeksi sekunder dan bisa dipulangkan. Nanti kondisi bagus ada dua alternatif bisa dipulangkan ke rumah atau bawa ke rusunawa (Rumah Sakit Darurat Covid-19 Boyolali) untuk dikarantina,” jelasnya.

Dengan adanya pasien postif di Boyolali ini, Masruri mengatakan bahwa status Boyolali tetap siaga darurat dan tidak dirubah menjadi tanggap darurat. Mengingat hal tersebut perlu dilakukan kajian mendalam dimana masyarakat pula yang paling besar menerima dampaknya.

“Status masih siaga. Kalau naik kita pelajari dengan kajian tidak serta merta kita naikkan menjadi tanggap darurat oleh tim pengkaji dulu kalau memenuhi syarat menjadi tanggap darurat. Kita tidak mengharapkan dan tidak kita sampaikan KLB (Kejadian Luar Biasa). Karena akan gaduh di masyarakat,” tegasnya.

Disinggung mengenai penanganan, pihaknya mengimbau masyarakat untuk turut bersama melakukan pencegahan COVID -19. Selain melakukan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) juga untuk tidak bepergian jika tidak ada kepentingan. Kemudian Masruri meminta jajaran Camat hingga Desa/Kelurahan untuk melakukan karantina mandiri kepada warganya yang masuk kategori protokol kesehatan pencegahan COVID -19 ini.

“Yang pulang dari daerah merah kita perintahkan ke tingkat Desa untuk karantina mandiri, kita imbau tidak pergi-pergi dan jika tidak penting jangan keluar rumah. Kalau keluar rumah pakai masker. Kepatuhan masyarakat merupakan hal yang sangat penting di kita semua. Mari kita jaga diri kita untuk sehat dan jaga orang lain untuk sehat,” pintanya.

Termasuk didalamnya kegiatan di pasar tradisional diminta untuk tetap jalan namun dengan menerapkan aturan menggunakan masker dan diberi fasilitas cuci tangan.

“Yang rawan di pasar. Kami perintahkan kepada Disdagperin (Dinas Perdaganagn dan Perindustrian) dan Camat serta jajaran sampai Desa/Kelurahan jika ke pasar tetap pakai masker, tempat cuci tangan menggunakan sabun dan hand sanitizer. Agar pasar tetap hidup,” pungkasnya.  (Mul/Red).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed