METROPOS.ID, KAB.PEKALONGAN – Kultur masyarakat terdampak COVID -19 di Kec. Wiradesa sedikit berbeda dengan daerah lain, karena mayoritas masyarakatnya bekerja di sektor industri pengolahan, termasuk industri batik yang sangat banyak di Wiradesa, dari level pengusaha besar, menengah, hingga pemula mereka sudah merumahkan para pekerja.
Oleh karena itu Pemkab. Pekalongan memberikan bantuan berupa 6.591 paket sembako dengan harapan bisa menjangkau masyarakat, Rabu (29/4/2020).
Bupati KH. Asip Kholbihi, SH.,M.Si berharap kepada para Kades/Lurah sudah betul-betul mendata warganya yang terdampak, jangan sampai tercecer, karena berbeda dengan daerah lain, kalau di Wiradesa lebih kepada pekerja di sektor industri, semua hampir terkena dampaknya,” jelas Bupati di International Batik Center (IBC) Wiradesa.
Pemberian bantuan akan ada tahap kedua dan akan Pemkab evaluasi agar bisa menutup semua, amanat dari Bupati agar para warga masyarakat yang dibantu oleh Pemkab bisa ikut berdo’a agar musibah ini bisa segera selesai sehingga keadaan bisa aman dan normal kembali.
Kemudian pemerintah tetap bahwa sosial dan phsysical distancing di Kab. Pekalongan masih rendah, terutama di daerah perkotaan, namun kalau di desa sudah lumayan disiplin.
Bupati mengajak masyarakat perkotaan di Kab. Pekalongan untuk bekerja sama untuk melawan penyebaran COVID -19 dengan selalu memakai masker saat bepergian dan rajin mencuci tangan serta jaga jarak dengan orang lain (sosial physical distanching).
“Sosial dan physical distanching adalah menjadi kata kunci dari permasalahan ini, jadi masyarakat tidak perlu berbicara ini yang sakit bagaimana, tapi yang penting adalah aspek pencegahannya, karena jika sudah masuk ke RS maka akan merepotkan semua,” ujar Bupati.
Pemkab, kata Bupati, sudah menyiapkan sarana dan prasarana. Namum kalau semua sakit tidak akan cukup, oleh karena itu yang paling bijaksana adalah dengan mencegah. Pencegahan yang efektif sesuai dengan protokoler kesehatan yaitu memakai masker, rajin cuci tangan, dan sosial physical distanching.
Hal ini harus dilakukan, namun Bupati menyadari hal ini belum efektif. Oleh karena itu tugas para Kades/lurah disamping menyalurkan bantuan juga harus melakukan sosialisasi, kalau memang tidak penting untuk keluar maka tidak usah keluar karena salah satu dari bantuan Pemkab adalah supaya orang tidak keluar juga, kecuali memang ada kepentingan tertentu, dan jika keluar tetap harus memakai standar protokoler kesehatan.
“Hal ini memang butuh waktu dan upaya kerja keras serta kesadaran masyarakat Kab. Pekalongan sehingga bisa mencapai kira-kira 70%, kalau sudah 70% masyarakat sadar, maka wabah ini akan segera berlalu di Kab. Pekalongan,” tambah Bupati.
Bupati juga menegaskan untuk yang belum mendapatkan bantuan, di desa sudah di siapkan, dan akan di cover juga dari Pemkab. Jadi kabupaten ini sifatnya dinamis namun syaratnya sudah ada.
Menurutnya, kemungkinan salah sasaran merupakan hal yang kecil, karena sekarang semua orang yang kayapun juga ikut terdampak. Namun Kades yang lebih tahu kondisi masyarakatnya, karena itu perintah Bupati kepada para Kades untuk mendatangi warganya itu menjadi penting karena sekaligus untuk bahan evaluasi.
Terkait data pemudik di Kab. Pekalongan sudah tinggi dan mencapai 37.957, kemudian data pemudik terbesar yaitu di Kec. Kesesi yang mencapai sekitar 5000, Kajen sekitar 3000, Sragi 3000, Bojong 2000, Paninggaran 3000, dan Kandangserang 3000, terhadap daerah-daerah yang jumlah pemudiknya diatas 2000, aparatur desa dan kecamatan siap siaga dan mereka sudah melakukan isolasi mandiri namun tetap harus dalam pengawasan semua. (Mit/Red).












Komentar