oleh

Silaturahim Ulama dan Tokoh, Mantan Napiter Ingatkan Bahaya Paham Radikal

METROPOS.ID, SUKOHARJO – Berbagai upaya dilakukan sejumlah pihak untuk mengikis rasa kekhawatiran masyarakat akan munculnya aksi teror serta mencegah masuknya paham intoleran dan radikal kepada generasi muda, atau dengan bahasa kekinian biasa disebut kalangan milenial.

Seperti yang dilakukan Amir Machmud Center menghadirkan tokoh agama dan mantan napiter dalam Silaturahim Ulama dan Tokoh se Solo Raya dengan tujuan menguatkan rasa kebangsaan dan Islam rahmatan lil alamin kepada kalangan anak muda bertempat di Solo Baru, Sukoharjo, Senin (7/9/2020).

Melalui acara yang diikuti sekira 100 peserta ini, selain menghadirkan Ketua MUI Sukoharjo K.H Abdullah Faishol, juga menghadirkan seorang mantan narapidana teroris (napiter), Syaifudin Umar alias Abu Fida yang dikenal pernah terlibat organisasi teroris sejak tahun 2012.

Abu Fida telah menjadi langgganan ditangkap Detasemen Khusus 88 Anti Teror. Namun sekarang, ia mengaku telah menolak segala bentuk aksi teror. Apalagi aksi teror dengan cara bom bunuh diri.

“Jangan percaya dengan ajaran Islamic State in Irak and Syiria atau ISIS. Sebab, itu ajaran syariah yang melenceng. Saya tidak pernah mengerti struktur organisasi ISIS. Awalnya tertarik karena janji tegaknya Khilafah Islamiyah,” katanya.

Sedangkan Abdullah Faishol selaku tokoh agama, dalam kesempatan ini mengatakan, memasuki masa kampanye Pilkada masyarakat harus mewaspadai politisasi agama dan munculnya isu politik identitas yang sarat kepentingan sesaat untuk saling menjatuhkan.

“Ini kan sudah muncul, karena ada calon (kepala daerah) seorang perempuan. Sudah muncul istilah, perempuan haram jadi pemimpin. Ini berpotensi memecah belah kerukunan,” tuturnya.

Menurutnya, penggunaan agama sebagai alat untuk mencapai tujuan politik merupakan suatu hal yang tidak baik bagi keberlangsungan hubungan antar masyarakat. Tidak sejalan dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

“Didalam Islam sendiri, NU sebagai organisasi agama Islam menyatakan boleh. Muhammadiyah, juga menyatakan boleh. Toh yang lain juga banyak kepala daerah, entah bupati atau gubernur perempuan. Namun isu ini sengaja dimunculkan lagi karena untuk menarik simpati,” katanya.

Ia berharap kepada calon kepala daerah agar menekankan penyampaian program maupun visi, misi, bukan melempar isu soal agama. Agama dan negara harus menyatu dan saling bersinergi. Empat pilar kebangsaan harus diimplementasikan dalam kehidupan keagamaan.

“Tetapi kami percaya itu tidak akan mempengaruhi masyarakat. Untuk itu gesekan – gesekan yang terkait dengan theologis itu harus dihindari, jangan sampai terjadi perselisihan karena perbedaan. Harus saling menghargai,” tegasnya.

Selaku penggagas kegiatan, Amir Machmud yang juga Direktur Amir Machmud Center, menyampaikan sudah merencanakan silaturahim ini sejak lama. Tidak hanya untuk menambah wawasan tentang agama saja, tapi juga menambah nilai kebangsaan. Tujuannya agar jangan sampai ada yang membenturkan antara agama dengan pemerintahan.

“Tidak hanya persoalan ajaran radikal dan sikap intoleran saja yang jadi bahasan, namun kami juga memantau munculnya politisasi agama dalam pilkada. Pantauan itu dilakukan melalui kajian – kajian yang hasilnya akan disampaikan kepada pemerintah sebagai bahan masukan,” pungkasnya.(Naura/Red).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed