METROPOS.ID, SUKOHARJO – Wabah COVID -19 mulai menjalar dilingkungan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab. Sukoharjo. Sedikitnya 35 orang bagian layanan publik yang berkantor di Gedung Menara Wijaya, 5 orang terkonfirnasi positif setelah Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo melakukan uji swab test.
Dari 5 orang tersebut, satu diantaranya Penjabat (Pj) Sekretrais Daerah (Sekda) yang belum lama ini dilantik Bupati menggantikan pejabat lama yang menggundurkan diri lantaran ikut kontestasi Pilkada.
Kepala DKK Sukoharjo yang juga jubir Gugus Tugas COVID -19 Sukoharjo, Yunia Wahdiyati mengatakan, dari kasus tersebut, 4 orang sudah diminta isolasi mandiri di rumah masing-masing, sedangkan satu orang menjalani perawatan di rumah sakit.
“Untuk 4 ASN, karantina mandiri selama 10 hari, atau sampai test berikutnya nanti didapat hasil negatif COVID -19. Sedangkan satu ASN lainnya, dirawat di rumah sakit,” kata Yunia saat dikonfirmasi, Senin (7/9/2020).
Saat ini, terang Yunia, seluruh pegawai yang kontak erat dengan kelima ASN tersebut, langsung dilakukan tracing untuk mengetahui kontak erat dan riwayat perjalanan masing – masing.
“Kami bergerak melakukan tracing. Sesuai SOP, kami juga melakukan tracing ke kontak erat kasus, baik di lingkungan keluarga maupun ke teman dekat,” ujarnya.
Meskipun yang terkonfirnasi positif sebagian berdinas dilayanan publik, namun Yunia mengatakan, sejauh ini belum ada rencana menutup kantor tempat ASN tersebut bertugas.
“Untuk langkah yang kami lakukan dari hasil kasus positif ini, kami memfilter berurutan mulai dari lini satu kontak erat. Bila nanti hasilnya ditemukan positif, maka bergerak ke lini berikutnya. Jadi tidak harus langsung melakukan penutupan lokasi tempat kerja,” tegasnya.
Sesuai target penanganan wabah Corona di Kab. Sukoharjo, perminggu DKK melakukan PCR test terhadap sekira 1000 orang yang dibagi menjadi 3 tahap. Dari total seluruh jumlah penduduk, saat ini baru tercapai sekira 50 %.
“Karena saat ini kami baru bergerak konsentrasi pada penelusuran kasus – kasus konfirm positif. Jadi belum sampai pada uji test massal, karena untuk test massal terkendala pada ketersediaan bahan uji medis dan kemampuan uji laboratorium,” pungkasnya. (Naura/Red).












Komentar