METROPOS.ID, SUKOHARJO – Kali pertama, Prodi (Program Studi) Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara (UVBN) Sukoharjo menyambut mahasiswa baru (maba) 2020/2021 tidak dengan tatap muka, namun dengan webinar.
Webinar dilakukan sebagai langkah antisipasi mencegah penyebaran virus COVID -19 dilingkukan kampus. Masing – masing maba mengikuti masa orientasi pengenalan prodi dari rumah menggunakan gawai maupun laptop.
“Webinar ini merupakan sarana silaturahmi mahasiswa baru agar mengenal prodinya hingga secara luas mengenal dunia kampus di UVBN ini,” kata Ketua Panitia Kegiatan, Nunun Tri Widarwati disela webinar, Senin, (12/10/2020).
Meskipun digelar virtual, dalam kegiatan ini seluruh keluarga kampus juga ikut dilibatkan berkenalan dengan para maba. Mulai dari dekan, pembantu dekan, hingga staf, satu persatu diperkenalkan menyapa para maba.
“Kami juga memperkenalkan tentang kurikulum, tentang visi-misi prodi, kemudian tentang administrasi keuangan di prodi, dan tak ketinggalan tentang atmosfer dunia pendidikan serta kemahasiswaan,” paparnya.
Mengingat webinar diselenggarakan khusus untuk maba Prodi Bahasa Inggris, maka materi yang disampaikan juga seputar seluk – beluk perkuliahan di prodi tersebut.
Sementara, Ketua Prodi Bahasa Inggris, Purwani Indri Astuti menambahkan, webinar level prodi ini merupakan bagian dari masa orientasi pengenalan dunia kampus yang sebelumnya sudah digelar ditingkat universitas dan level fakultas.
“Saat ini kami tidak bisa menyelenggarakan dengan cara tatap muka. Tetapi kami tetap harus menyampaikan kepada maba tentang apa yang akan berikan selama kuliah disini. Dan itu merupakan satu rangkaian yang sudah kami susun,” ujarnya.
Disadari masa orientasi kampus menjadi penting untuk dilakukan lantaran mayoritas maba merupakan baru lulus dari pendidikan SMA/SMK atau sederajat. Sedikit banyak ada perbedaan kurikulum yang perlu diketahui.
“Terkadang mereka itu tidak tahu, apa bedanya jurusan dengan prodi. Nah ini harus kami pahamkan, jangan sampai nanti mereka itu keliru menyebut kepala prodi tapi yang disebut dekannya. Ini kadang masih seperti itu,” pungkasnya. (Naura/Red).











Komentar