Ratusan warga saat demo (Foto Kermit)
Metropos.id, Batang – Warga terdampak PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) dari 3 Desa yakni Desa Ujungnegoro, Karanggeneng dan Ponowareng merasa di dholimi oleh pihak PT BPI (Bhimasena Power Indonesia) pasalnya hanya sedikit saja warga mereka yang dipekerjakan di proyek raksasa tersebut.
“Kami warga terdampak PLTU dari 3 Desa merasa didholimi karena hanya sedikit sekali warga kami yang diperkerjakan di PLTU. Itupun harus melalui proses yang sulit,” hal ini seperti disampaikan Korlap (Koordinator Lapangan) massa, Darsani.
Sedikitnya ada 200 an massa yang menggelar aksi didepan gerbang PLTU Selasa pagi (31/5/2022).
Warga yang datang dengan melakukan longmarch dari lapangan Desa selanjutnya berjalan hingga depan gerbang PLTU yang terletak di Desa Ujungnegoro selain melakukan orasi warga juga menggelar spanduk di depan pintu masuk proyek raksasa tersebut.
Dalam orasinya warga juga meminta PT BPI menyetarakan pembayaran tanah yang sudah mereka jual pada tahun 2012 dengan harga Rp 100 ribu/meter disetarakan menjadi Rp 400 ribu/meternya.
“Kami juga meminta adanya penyetaraan harga jual tanah dari Rp 100 ribu menjadi Rp 400 ribu. Dan kami melalui kuasa hukum kami sudah melayangkan surat somasi kepada pihak BPI. Namun hingga saat ini belum ada jawaban,” tandas Darsani.
Aksi demo ini dikawal ketat oleh pihak keamanan baik dari kepolisian, brimob bersenjata dan juga dari pihak security PT BPI selanjutnya warga di temui oleh pihak perwakilan PT BPI di depan gerbang pintu masuk PLTU usai melakukan penyampaian audensi warga selanjutnya membubarkan diri dengan pengawalan ketat dari pihak kepolisian.
Tetapi warga mengancam akan terus melakukan aksi serupa secara rutin sampai tuntutan mereka di penuhi.
Namun hingga berita ini dirilis belum ada keterangan resmi dari pihak PT BPI terkait aksi massa tersebut. (Mit/Red)












Komentar