Para peserta saat berangkat demo (Foto Heru)
Metropos.id, Ungaran – Tidak kurang 200 petani yang tergabung dalam Forum Petani Rawa Pening Bersatu siap menggeruduk gedung wakil rakyat DPRD Provinsi Jawa Tengah, Selasa (12/7/2022).
Mereka meluncur DPRD Jateng dengan menggunakan 3 truk, 8 mobil pribadi serta puluhan sepeda motor dan berangkat dari Alun Alun Tambakboyo, Kec Ambarawa, Kab Semarang.
Kapolsek Ambarawa AKP Wigiyadi menyatakan, bahwa menyampaikan aspirasi itu adalah hak dari warga atau masyarakat. Untuk itu, sampaikanlah aspirasi itu kepada DPRD Jateng dengan baik dan tertib serta komunikasikan pula dengan baik.
“Kami berharap aspirasi warga yang tergabung dalam Forum Petani Rawa Pening Bersatu ini dapat didengar, diterima dan selanjutnya ditindaklanjuti. Selain itu, pada saat perjalanan menuju DPRD Jateng di Semarang untuk mengikuti pengawalan dari petugas kepolisian. Kita akan kawal dari Ambarawa ini sampai tujuan,” kata AKP Wigiyadi disela memberikan pengawarahan kepada peserta aksi di Alun Alun Tambakboyo, Ambarawa.
Ditambahkan, kepada peserta aksi untuk tidak membawa barang-barang yang membahayakan. Karena jika itu masih ada yang membawa maka akan membahayakan dan merugikan semuanya. Bahkan, jika nanti selesai melakukan aksi di DPRD Jateng, mohon kembali ke tempat asalnya juga dengan tertib.
Koordinator Forum Petani Rawa Pening Bersatu (FPRPB) Swestiyono menyatakan, bahwa tujuan utamanya ini adalah kepada DPRD Provinsi Jateng. Tuntutannya diantaranya agar tahun ini (2022) para petani bisa menanam dan itu dapat dilakukan hingga seterusnya.
“Selain itu, kita akan meminta kompensasi kepada pemerintah karena selama kurang lebih 3 tahun tidak dapat bercocok tanam atau menanam. Juga, untuk peralatan branjang maupun yang lain untuk tidak dimusnahkan. Serta, pemerintah harus dapat meninjau ulang keputusan menteri, ” terang Swestiyono.
Dengan tuntutan utama tersebut, para petani Rawa Pening harus dapat menikmati hasilnya. Apabila memang ada pengembang yang akan membangun kawasan wilayah Rawa Pening maka jangan sampai mengganggu lahan yang masih dapat atau bisa digarap petani. Selain itu, jangan mematikan petani.
“Intinya, yang paling urgent adalah kita petani harus dapat menanam seterusnya. Dan dapat panen dalam 1 tahun 2 kali panen. Yang utama, saya tegaskan bahwa aksi kita ini murni dari petani dan nelayan serta sama sekali tidak ada yang menunggangi. Ini tidak ada yg nunggangi,” tandasnya. (Heru/Red).











Komentar