oleh

Apitan Kelurahan Kramas Pupuk Kebersamaan dan Kerukunan Komponen Warga

Pentas Kuda Lumping Turonggo Mudho Kelurahan Kramas, Tembalang, Semarang (Foto Wb)

Metropos id, Semarang – Guyub rukun agawe santoso (membuat sentausa) semboyan warga Kelurahan Kramas, Kec. Tembalang, Kota Semarang patut diapresiasi.

Dengan kebersamaan, warga Kelurahan Kramas nyengkuyung acara Apitan (merti desa/bersih desa) yang dimulai dengan kerja bakti bersih-bersih desa, Tahlil dan doa bersama di makam leluhur Mbah Singonyidro, dilanjutkan arak-arakan Barongan (Kuda Lumping) yang merupakan budaya leluhur warga Kramas menuju lapangan Kelurahan Kramas.

Yulistiyono, SE., Lurah Kramas kepada awak media mengatakan, acara Bersih Desa (sedekah bumi) merupakan budaya kearifan lokal turun temurun dari tahun ketahun dilaksanakan oleh masyarakat Kelurahan Kramas.

Bersih Desa atau biasa disebut Apitan ini dimulai dengan kerja bakti bersama, resik-resik kampung yang diikuti oleh seluruh warga di 6 RW dan 28 RT se-Kelurahan Kramas.

Dilanjutkan dengan menggelar pengajian akbar pada Kamis (1/6/2023) malam di lapangan Kelurahan Kramas dengan pembicara KH. Syarofuddin Husein dari Semarang.

“Paginya dilanjutkan dengan bersih-bersih kubur, doa dan tahlil di makam leluhur Mbah Singonyidro,” ujar Lurah Kramas, Yulistiyono usai kirab, Jumat (2/6/2023) sore.

Kirab diikuti oleh perangkat Kelurahan Kramas dengan berbagai unsur masyarakat yang turut memeriahkan acara Bersih Desa menuju lokasi acara lapangan Kelurahan Kramas dengan disambut Marchingband TK PGRI dan pertunjukkan kesenian lokal Kuda Lumping Turonggo Mudho yang merupakan kesenian asli masyarakat di wilayah Kelurahan Kramas.

“Dari semua kegiatan yang dilaksanakan, kami ingin nguri uri adat budaya Jawa yang merupakan salah satu budaya nusantara,” kata Yulis.

Kelurahan Kramas dikatakan Yulis mempunyai potensi budaya yang sangat banyak. Terdapat sumber air berupa sendang yang tak tak pernah surut sumber airnya.

Selain itu, kesenian reog atau Kuda Lumping Turonggo Mudho yang juga merupakan kesenian asli dengan pelaku seni dari warga masyarakat Kelurahan Kramas.

Yulis berharap, dengan upaya nguri uri budaya di wilayahnya ini dapat membangkitkan semangat cinta tanah air dengan mencintai seni budayanya sendiri.

Hal tersebut disampaikan mantan Lurah Jomblang, Kec. Candisari ini, sesuai dengan arahan Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu, sebagai pemimpin wilayah harus dapat memupuk semangat kebersamaan, kerukunan antar sesama serta seluruh komponen masyarakat yang ada.

“Perbedaan boleh, namun tidak harus menjadikan sebuah perbedaan yang mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa, Generasi muda jangan sampai kehilangan sejarah tentang dirinya sendiri. Teknologi boleh berkembang, namun kearifan lokal dengan budaya yang kita miliki tidak boleh luntur. Warisan leluhur harus tetap kita jaga dan diwariskan kepada generasi selanjutnya,” tandasnya.

Sementara itu ditempat sama, Ketua Panitia Tasyakuran dan Bersih Desa Kelurahan Kramas, Agus Pramono mengatakan, kegiatan Apitan merupakan kegiatan rutin tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat Kelurahan Kramas semenjak dirinya belum lahir.

“Ini warisan nenek moyang, semenjak saya belum lahir acara Merti Desa sudah ada. Dan setiap Apitan selalu nanggap wayang,” ujar Agus Pramono yang juga Ketua RW 01 di Kelurahan Kramas, usai pertunjukkan pentas Kuda Lumping di lapangan Kramas.

Pentas wayang kulit di lapangan Kelurahan Kramas (foto Wb)

Adapun pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang turut meramaikan acara bersih desa mengundang dalang kondang dari Kab. Karanganyar, Ki Anom Dwijo Kangko, S.Sn. dengan mengambil lakon Sirnaning Angkara Murka.

“Kami menyadari, kalo ini tidak kita uri-uri, budaya semacam ini akan hilang oleh derasnya serbuan budaya pendatang (asing). Sehingga budaya ini tetap kita uri-uri agar bisa dinikmati oleh generasi muda dan ikut melestarikannya,” tutur Agus Pramono. (wb/red).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed