METROPOS.id, Sukoharjo – Masuknya Indonesia menjadi anggota International Council for Small Business (ICSB) sejak 2016, membuka pintu memajukan pengembangan dan pertumbuhan Usaha Kecil Menengah (UKM) di tanah air.
Di tengah gejolak ekonomi dunia yang diselimuti perang dagang, pelemahan nilai tukar terhadap dollar, dan pelemahan pertumbuhan, ICSB sebagai lembaga nirlaba terus memperluas jaringan kepengurusan salah satunya di Sukoharjo.
Bersama Dinas Perdagangan Koperasi (Disdagkop) dan UKM Sukoharjo yang berperan sebagai mitra, ICSB menggelar pelantikan pengurus tingkat kecamatan bertempat di Gedung Pusat Promosi Potensi Daerah (GP3D), Sukoharjo, Sabtu (21/12/2019).
“Kami berharap agar UKM di Sukoharjo bisa bertahan dan berkembang. Karena itu, produk yang bagus, layanan yang baik, dan yang lainnya belum cukup bisa bertahan menghadapi tuntutan pasar era digital saat ini,” kata Ketua ICSB Sukoharjo Kunto Adi.
Sehubungan dengan itu, ICSB yang kini resmi terbentuk di 12 kecamatan yang ada di Sukoharjo disebutkan Kunto akan membantu pelaku UKM untuk lebih mengerti factor-faktor yang harus dipahami agar bisa masuk dipasar modern.
“Untuk anggota ICSB di Sukoharjo, saat ini berdasarkan grup media sosial WA masing – masing kecamatan rata – rata antara 50 – 80 pelaku UKM dari berbagai jenis usaha,” ungkapnya.
Berbagai kegiatan pelatihan dan seminar tentang kewirausahaan untuk meningkatkan mutu dan daya saing, terus dilakukan dengan harapan produk UKM juga memiliki standar yang sama dengan produk -produk modern yang lebih dulu menguasai pasar.
“Kami ingin menjembatani atau membantu para pelaku usaha baik skala kecil, menengah bahkan sampai ekspor agar bisa naik kelas. Baik dari segi kwalitas, perijinan, konsep dan juga pemasaran,” ujarnya.
Sementara, Kepala Disdagkop UKM Sukoharjo Sutarmo pada kesempatan ini menegaskan, untuk bisa naik kleas, UKM harus kreatif dan inovatif tumbuh dari bawah.
“Di era revolusi industri 4.0, tentunya UKM harus bisa menyesuaikan diri di alam kekinian. Minsed harus dirubah dalam segala aktivitasnya. Tidak lagi bertumpu pada cara offline saja. harus mulai dengan online,” tandasnya.
Di era digital sekarang, Sutarmo mendorong pelaku UKM mulai menggunakan sistem pembiayaan dan pembayaran non tunai dengan aplikasi Quick Responds (QR) Code Indonesia Standard (QRIS) dari Bank Indonesia yang sudah berstandar internasional.
“Penggunaannya sanggat mudah, aman dan praktis. QRIS bisa dipakai untuk transaksi apa saja, seperti BPJS, bayar listrik, hingga belanja dipasar. Dan saat ini sudah kami implementasikan di Pasar Gawok, Gatak serta akan menyusul di 15 pasar lainnya,” pungkasnya. (Naura/Red).












Komentar