METROPOS.ID, Sukoharjo – Setelah heboh Keraton Agung Sejagat (KAS) di Purworejo, di Sukoharjo sudah lama diketahui juga ada klaim berdirinya keraton sebagai penerus dari yang sebelumnya sudah ada yakni, berupa Yayasan Kesultanan Keraton Padjang (YKKP), dipimpin seorang pria bernama Suradi yang mengaku bergelar Sultan Prabu Hadiwijaya Kalifatullah IV.
Seperti pada kebiasaan keraton, YKKP yang berlokasi di Dk. Sonojiwan, Ds. Makamhaji, Kec. Kartasura, juga menggelar ritual jumenengan atau peringatan atas kenaikan tahta raja. Sebagai Sultan, Suradi dengan keyakinannya untuk melestarikan adat dan budaya peninggalan Keraton Padjang, menggelar kenaikan tahta yang ke 12 kali, terhitung sejak 2008 silam.
Mengenakan beskap berwarna hitam dihiasi pernik-pernik berwarna emas, serta tak lupa mengenakan mahkota juga berwarna emas di kepala, Suradi duduk berdampingan dengan sang istri di kursi singgasana disaksikan puluhan tamu pengasuh salah satu ponpes yang sengaja diundang bersama ratusan santri.
“Ini adalah jumenengan yang ke 12, dan saya juga bekerjasama dengan pondok pesantren, mengundang para santrinya dalam acara ini, ” kata Suradi disela acara jumenengan, Selasa (3/3/2020) malam.
Dalam jumenengan ini, do’a-do’a dilantunkan dengan khidmad diawali dengan tata cara kejawen dan dilanjut dengan do’a menurut agama Islam. Tak berselang lama, sebuah nasi tumpeng yang sudah disiapkan dipotong. Tumpeng dimaksudkan sebagai umbul donga atau selamatan.
“Dengan acara ini, saya berharap semoga Padjang menjadi lebih baik,” ujar Suradi.
Informasi yang didapat, acara jumenengan YKKP ini dikabarkan menuai keberatan dari Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta yang dipimpin Gusti Mung, salah satu putri PB XII. Namun begitu, Suradi rupanya tak bergeming untuk terus melaksanakan tiap tahun sekali.
“Acara ini sudah menjadi agenda rutin. Jadi setiap tahun selalu saya selenggarakan sebagai bagian dari nguri – nguri peninggalan Keraton Padjang,” pungkasnya. (Naura/Red).











Komentar