Hendi saat tuangkan Eco Enzyme ke sungai (Foto Infokom)
Dalam kegiatan tersebut, Hendi mendapat dukungan dari Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KKPKC) Kevikepan Semarang, serta sejumlah animator Laudato Si’, juga sejumlah mitra kerja melaksanakan penuangan ecoenzyme.
Hendi sendiri menerangkan jika kegiatan penuangkan eco enzyme di sungai Semarang sekitar Kebon Dalem itu juga dibarengi dengan seminar pengolahan sampah dengan BSF (Black Soldier Fly).
Pasalnya pengembangan metode eco enzyme di ibu kota provinsi Jawa Tengah tidak hanya digunakan untuk menjernihkan air, namun juga dimaksimalkan guna mengurangi timbunan sampah.
Hendi menekankan upaya pengembangan eco enzyme dapat menjadi gebrakan untuk wilayah yang dipimpinnya, mengingat setiap harinya ada sebanyak 1.200 ton sampah di Kota Semarang yang perlu perhatian khusus, agar kemudian dapat diolah untuk lebih bermanfaat.
Untuk itu Hendi pun memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung pegembangan pemanfaatan eco enzyme di Kota Semarang, termasuk keluarga besar Gereja Kebon Dalem pada hari itu.
Maka dari itu dirinya berharap jika kegiatan positif yang dihadirinya kali itu dapat dikembangkan untuk bisa dilakukan bersama elemen masyarakat lainnya. Hal itu disampaikannya mengingat pentingnya menemukan solusi pengolahan produksi sampah organik bagi Kota Semarang, dimana salah satunya dengan melalui produksi eco enzym.
Sementara itu, Pemkot Semarang juga telah











Komentar