METROPOS.ID, Sukoharjo – Geram dengan merajalelanya serangan hama tikus, sebuah lomba gropyokan tikus digelar diikuti sekira 150 petani di area persawahan Kel. Banmati, Kec./Kab. Sukoharjo, Minggu (19/1/2020).
Lomba yang tergolong unik ini didukung oleh Kec. Sukoharjo, Kelurahan, dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Banmati.
Plt Camat Sukoharjo, Havid Danang kepada awak media mengatakan, lomba sengaja diselenggarakan seiring dengan maraknya teror hama tikus di kawasan persawahan tersebut.
“Kemarin kami berkoordinasi dengan Kelurahan dan Gapoktan Banmati, mereka mengeluh dengan serangan hama tikus yang membuat petani gagal panen sebanyak dua kali,” ungkapnya.
Keluhan itu awalnya disampaikan oleh Ketua Gapoktan Banmati, Sri Wahyono. Dia menyayangkan sikap para petani Banmati yang tidak kompak dalam mengatasi serangan hama tikus ini.
Karena tidak bisa kompak melakukan gobyokan tikus secara serentak, sehingga masih banyak tikus yang berkeliaran meski petani sering melakukan gopyokan secara mandiri.
“Sebenarnya gopyokan tikus sudah dilakukan para petani, tapi secara sendiri-sendiri, dan itu kurang efektif. Ditambah masih adanya sejumlah petani yang percaya jika tikus jangan di gopyok,” terangnya.
Oleh karenanya, lomba ini digelar agar seluruh petani melakukan gopyokan secara serentak, dengan iming-iming hadiah, dan alhasil sebanyak 15 kelompok tani, yang masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang datang ikut gropyokan.
“Nanti juara 1, 2, dan 3 akan mendapatkan piala, dan tikus yang didapatkan akan dihargai Rp 1 ribu/tikus,” jelasnya.
Ditambahkan Ketua Gapoktan Banmati, Sri Wahyono, areal persawahan di Banmati memiliki luas sekira 100 hektare. Akibat serangan hama tikus ini, menyebabkan waktu tanam padi mundur sekitar satu bulan lebih.
“Bulan September 2019, 20 hektare sawah gagal panen karena serangan hama tikus. Maka dengan lomba ini kami bisa semakin kompak, dan selalu mengikuti rapat Gapoktan untuk edukasi masalah pertanian,” pungkasnya. (Naura/Red)












Komentar